Pengamatan Pelaksanaan Pembelajaran Sains di Yayasan
TK AL-KAMAL
Masyunita
siregar
Nona
Ira Rizky
Windi
Nurika
ABSTRAK
Keberhasilan
pembelajaran sains yang dilakukan di sekolah atau lembaga Pendidikan Anak Usia
Dini tergantung oleh guru yang notabene sebagai perancang dan fasilitator. Jika
guru tidak memunculkan sikap sains kepada anak maka anak tidak akan mengetahui
apapun tentang sains tersebut. Tolak ukur untuk melihat keberhasilan
pembelajaran sains di PAUD/TK dapat diidentifikasi dari hakikat sains yang
muncul dari pembelajaran sains tersebut.Pengamatan ini bertujuan melihat
pembelajaran sains secara langsung, dan melihat penerapan hakikat sains di
lapangan terutama proses dan sikap sains. Observasi ini dilakukan dengan cara
pengamatan secara langsung di TK AL-KAMAL dan juga melalui wawancara dengan
guru dan murid di kelas A TK AL-KAMAL. Wawancara yang dilakukan adalah dengan
cara wawancara terbuka, yaitu wawancara atau perbincangan berlangung tanpa ada
daftar pertanyaan yang disiapkan terlebih dahulu. Setelah melakukan observasi
ini, kami memperoleh hasil tentang pembelajaran sains yang dilakukan di
TK-AL-KAMAl. Pembelajaran sains dilakukan dengan perencanaan yang matang, salah satu buktinya adalah penyediaan waktu
atau hari khusus yaitu hari sabtu untuk kegiatan eksperimen. Alasanya adalah
agar kegiatan eksperimen yang dilakukan bisa dengan maksimal dan pembelajaran
lainnya tidak terganggu dengan kegiatan eksperimen. Saat pembelajaran sains
berlangsung, terlihat perencanaan yang begitu matang dari guru.Pengelolaan
kelas yaitu bervariasi kategori klasikal saat di dalam kelas dan kelompok saat
di luar kelas. Seluruh kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan mendorong anak
untuk memilki keterampilan proses sains dan
memiliki sikap saintis yaitu tidak mudah putus asa dengan eksperimen yang tidak
berlangsung mulus pada percobaan pertama, serta sikap saintis lainnya. Diakhir
pembelajaran guru memberi penegasan terhadap anak murinya tentang penyebab
telur bisa terapung.
1.
PENDAHULUAN
1.1.LATAR BELAKANG
Dari sudut bahasa, sains atau
Science (bahasa inggris), berasal dari bahasa Latin, yaitu dari kata Scientia
artinya pengetahuan. Secara keseluruhan, sains dapat dipandang sebagai kesatuan
dari produk, proses dan sikap. Sains termasuk bidang ilmu yang dipelajari oleh
berbagai tingkat pendidikan termasuk pendidikan anak usia dini.
Menurut UU
No.20 Tahun 2003 tentang sisdiknas menyatakan bahwa:
“Pendidikan
Anak Usia Dini adalah suatu upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak
lahir sampai usia enam tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan
pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar
anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut”.
Dari
pengertian diatas kita tahu bahwa anak usia dini membutuhkan rangsangan dari
berbagai pihak di lingkungannya. Salah satu yang terpenting untuk diberi kepada
mereka ialah pembelajaran sains.
Namun
beberapa tahun terakhir ini, hasil belajar sains menunjukkan hasil yang kurang
memuaskan. Menurut hasil penelitian Trends in international Mathematics and
Scienty Study (TIMSS), kemampuan dan daya tangkap sains anak Indonesia pada
tahun 2004 berada berada pada peringkay ke-34 dari 38 negara. Sedangkan pada
kompetisi International Junior Science Olympiade (IJSO) tahun 2006 tim
Indonesia berada di peringkat keempat, dibawah Korea Selatan,Taiwan, dan Rusia.
Hal ini menunjukkan bahwa penyadaran sains pada generasi penerus harus terus
menerus dilakukan mulai dari usia dini hingga dewasa karena masa golden age
akan mudah menyimpan dan mengingat sesuatu.
Keberhasilan
pembelajaran sains, ada tidaknya pembelajaran sains yang diperoleh anak semua
itu tergantung oleh guru yang notabene sebagai perancang dan fasilitator. Jika
guru tidak memunculkan sikap sains kepada anak maka anak tidak akan mengetahui
apapun tentang sains tersebut.
Sehubungan dengan permasalahn
diatas maka peneliti bertujuan untuk membuat suatu penelitian yang berjudul
Pelaksanaan Pembelajaran Sains siswa TK A di Yayasan AL-KAMAL.
1.2.Tujuan
a. Untuk
melihat pembelajaran sains secara langsung
b. Untuk
melihat penerapan hakikat sains di lapangan terutama
Proses
dan sikap sains
1.3.Manfaat
a. Menambah
pemahaman pembelajaran sains secara praktek.
b. Memberikan pengalaman langsung dalam pembelajaran sains
c. Dapat
membandingkan pemahaman pembelajaran sains secara teori dan praktek.
2.
Data
Hasil Observasi dan Pembahasan
2.1.Data
Hasil Observasi
Tabel pelaksanaan
pembelajaran selama berlangsung pembelajaran di kelas:
Aspek yang diobservasi
|
Fakta yang ditemukan
|
Perencanaan
Apakah
pembelajaran dipersiapkan dengan baik?
|
Ya
|
Pembelajaran
1.
Apakah siswa aktif
terlibat secara mental (berpikir)?
2. Apakah pembelajaran terkait dengan kehidupan nyata (Kontekstual)?
3. Apakah pembelajaran mendorong berpikir tingkat tinggi
(kritis, mengambil keputusan, memecahkan masalah, kreatif)?
4. Apakah pembelajaran melayani gaya belajar siwa yang berbeda-beda?
5. Apakah pembelajaran mendorong untuk berinteraksi multi arah
(siswa-siswa-guru)?
6. Apakah pembelajaran menggunakan lingkungan sebagai
media/ sumber belajar?
7. Apakah pemberian tugas yang
bermakna (mengaktifkan siswa, memotivasi, menantang, kontekstual,
mengembangkan aktivitas penyelidikan)?
8. Apakah pengelolaan siswa
bervariasi (klasikal, kelompok, individu)?
9. Jika ada pengelolaan
kelompok, apakah siswa mencari dan membahas informasi secara aktif?
10. Apakah bentuk pengelolaan
(klasikal, kelompok, individu) sesuai dengan tugas yang diberikan?
11. Apakah strategi
pembelajaran mengaktifkan semua siswa, menumbuhkan kreativitas, berpikir,
berbuat, efektif mencapai tujuan, dan menyenangkan (tidak membuat siswa
stress/tertekan/takut salah?
12. Apakah variasi penggunan media dan sumber belajar?
13. Penugasan menghasilkan
karya (kelompok dan individu)
14. Upaya mendorong siswa
sehingga menghasilkan karya (individu/kelompok)
15. Apakah anak mampu
merefleksikan hasil pembelajaran?
|
Ya
Ya
Ya
Tidak, karena kegiatannya(eksperimen)
dilakukan secara berkelompok
Ya
Ya
Ya
Ya
Ya ,klasikal dan kelompok
Ya
Ya kelompok sesuai dengan
tugas yang diberikan
Ya
Ya, ada gelas kaca dan
plastic dan ada yang luas ada yang sempit
Ya
Ya
Ya
|
Manajemen
Kelas
1.
Apakah ada kesepakatan
tata tertib kelas yang perlu dipatuhi?
2.
Apakah penataan tempat
duduk memudahkan untuk melakukan kegiatan belajar?
3.
Apakah ada pengaturan
peran anggota kelompok
4.
Apakah penggunaan alat
dan sumber belajar diatur dengan baik?
5.
Apakah penataan lingkungan belajar diseting secara
bervariasi (didalam kelas, diluar kelas)?
|
Ya
Ya
Tidak
Ya
Ya
|
Penilaian
1.
Apakah guru memantau proses belajar siswa?
2.
Apakah guru memberikan umpan balik terhadap hasil kerja siswa
|
Ya
Ya
|
Pengamatan atau observasi yang dilaksanakan di
Yayasan Al-kamal khususnya di TK kelas A, kami memperoleh data sebagai berikut.
Kegiatan sains yang dilakukan di kelas tersebut telah dipersiapkan secara
matang dan dipersiapkan jauh-jauh hari. Dan sesuai penuturan guru di kelas
tersebut kegiatan eksperimen dilaksanakan setiap hari sabtu dengan tujuan
kegiatan tidak mengganggu aktivitas lain dan juga agar eksperimen yang
dilaksanakan bisa dilakukan secara maksimal. Sebelum kegiatan eksperimen
terhadap telur, guru terlebih dahulu mengemukakan atau memberi gambaran tentang
eksperimen yang akan dilakukan. Disini guru menggunakan bahasa yang mudah
dimengerti oleh anak yaitu mengganti kata mengapung dengan kata terbang.
Sebelum kegiatan
eksperimen dilakukan diluar kelas guru terlebih dahulu memberikan penjelasan
atau gambaran tentang eksperimen tersebut di dalam kelas dengan pengelolaan
klasikal. Dimana semua murid duduk melingkar dan salah satu guru berada
ditengah anak-anak untuk memberi gambaran dan juga stimulus kepada anak. Disini
guru menjelaskan atau menggambarkan dengan mengaitkan kepada kegiatan sehari
hari atau yang sering di lihat oleh anak. Yaitu seperti menanyakan tentang apa
saja yang dilakukan anak ataupun orang tua mereka saat dirumah terhadap telur. Kemudian
guru mulai mengarahkan kepada kegiatan yang akan dilakukan. Setelah minat anak
muncul guru mengarahkan anak murid untuk menuju ke luar kelas dan kami juga
turut membantu mengarahkannya. Sesuai dengan kesepakatan para guru di kelass A
anak duduk secara berkelompok dimana satu kelompok terdiri dari tiga anak dan
jarak tempat duduk antar kelompok diatur sedimikian rupa sehingga tidak saling
mengganggu antar kelompok.
Alat dan bahan yang telah disiapkkan oleh ibu
guru dibagikan secara bergiliran oleh guru yaitu dengan membagikan gelas yang
bervariasi seperti gelas kaca dengan ukuran panjang, gelas yang lebih pendek
dengan diameter yang lebih kecil dan juga menggunakan cangkir. Setiap anggota
kelompok mempunyai satu media gelas ataupun cangkir. Kemudian guru membagikan
satu telur untuk
masing-masing kelompok dan guru meminta mereka untuk memasukkan telur
tesrbut kedalam media gelas ataupun cangkir dan mengamatinya. Selanjutnya guru
meminta anak untuk mengambil kembali telur tersebut dan meminta anak memasukkan
garam kedalam gelas atau cangkir yang berisi air tersebut dan melarutkannya
dengan mengaduk dengan sendok yang telah
dibagi terlebih dahulu. Setelah anak-anak yakin bahwa garam telah larut dengan
air, guru meminta anak untuk memasukkan kembali telur tadi dan mengamati apa
yang terjadi dengan telur. Beberapa anak berhasil dalam satu kali percobaan dan
mereka sangat antusias saat melihat telurnya terbang sesuai yang dikatakan ibu gurunya terlebih dahulu. Namun, ada
beberapa kelompok yang tidak berhasil dalam percobaan pertama dan guru meminta
anak untuk menambahkan garam kedalan gelas atau cangkir mereka dan mengaduknya
kembali. Setelah itu mereka memasukkan kembali telur kedalam gelas atau
cangkir. Dan kelompok tersebut pun berhasil dalam percobaanya. Dan salah satu
kelompok yang mendapatkan ukuran gelas yang lebih pendek dan diameter lebih
kecil telurnya tidak dapat terbang sesuai harapan anak-anak karenadiameter
gelas dan telur tidak seimbang.
Setelah kegiatan eksperimen yanmg dilakukan
selesai guru mengajak anak-anak untuk menunjukkan karya atau hasil eksperimen
mereka sambil guru mengambil foto mereka.Hal ini merupakan bentuk dokumentasi
eksperimen anak anak, jelas ibu Nur saat diwawancara. Anak-anakpun kembali
masuk kelas dan di dalam kelas guru memberikan umpan balik tentang kegiatan
eksperimen tersebut dengan menanyakan “kenapa telur tersebut bisa terbang?”.Dan jawaban anak-anak sangat beragam, ada yang
mengatakan karena ada sayapnya, dan ada juga yang mengatakan karena garam yang
dimasukkan kedalam air tersebut. Setelah ada jawaban yang benar yaitu karena
garam maka guru memberikan penegas akan jawaban tersebut. Hal ini untuk
meluruskan pemahaman anak-anak.
2.2
Pembahasan Hasil Observasi
Dari hasil analisis yang kami
lakukan dapatlah diketahui, sains merupakan pengetahuan umum yang mencakup
dimensi produk, proses dan sikap yang didapat melalui observasi maupun
konseptual. Pembelajaran sains di TK A AL KAMAL dilakukan melalui dimensi
produk yakni anak diajak untuk menemukan fakta apakah telur tersebut tenggelam atau mengapung. Penerapan dimensi
proses yang dilakukan ialah anak diajak
untuk berfikir kritis dan melewati beberapa tahapan keterampilan proses yakni:
1. Penggunaan
alat.
Anak dapat menggunakan alat sesuai
dengan kegunaannya sehingga ia akan mudah dalam menjalankan eksperimen.
2. Meramalkan.
Sebelumnya guru telah menjelaskan
kepada anak tentang apa yang mereka lakukan. Lalu guru memberikan stimulus untuk merangsang rasa ingin tahu dan opini
anak tentang hal apa yang akan terjadi terhadap eksprimen yang akan dilakukan.
3. Mengamati
Anak mengamati berjalannya proses
pembelajaran. Semula ia melakukan percobaan telur dimasukkan ke dalam air lalu
ia mengamatinya. Selanjutnya ia mengamati telur yang dimasukkan ke air larutan
garam.
4. Mengklasifikasikan.
Dengan mengamati telur yang
dimasukkan ke air biasa dan air garam tersebut anak tahu bahwa telur yang
dimasukkan ke air garam dapat mengapung.
5. Mengkomunikasikan.
Anak mampu untuk menceritakan kembali tentang apa
yang tadi mereka lakukan dan mengapa hal itu terjadi.
Menurut Abruscato, pembelajaran sains bertujuan
untuk mengembangkan intelektual, emosional, fisik atau aspek kognitif, afektif
dan psikomotorik anak. Hal ini sejalan dengan analisis pembelajaran di Kelas A
yang kami lakukan, pembelajaran sains membuat anak mendapatkan suatu
pengetahuan baru bahwa telur yang dimasukkan kedalam air larutan garam akan
terbang (mengapung). Aspek emosional anak pun muncul ketika diantara mereka ada
percobaannya yang tidak berhasil. Mereka terlihat kecewa akan hasil yang
ditemukan, apalagi ketika melihat kelompok yang lain berhasil melakukan
eksprimen. Sehingga anak terus mencoba melakukan eksprimen tersebut dengan
menambahkan garam lebih banyak lagi kedalan air. Pengembangan pembelajaran
sains sebagai produk terkait dengan pengenalan dan penguasaan fakta, konsep,
teori dan prinsip. Hal ini dapat dilihat bahwa fakta yang ditemukan telur
mengapung karena larutan air garam. Anak akan berhasil menguasai dimensi produk
jika ia telah mampu menjelaskan fakta-fakta yang terkait dengan eksperimen yang
ia lakukan kepada gurunya. Selanjutnya pengembangan pembelajaran sains sebagai
proses yakni menguasai cara-cara kerja dalam percobaan yang dilakukan. Ini terlihat bahwa anak mampu mengamati,
meramalkan, mengklasifikasikan, memecahkan masalah dan menyimpulkan.
Pengembangan pembelajaran sains saat anak-anak memiliki sikap sainstific, ini
terlihat ketika salah satu kelompok belum berhasil dalam eksperimennya ia tetap
tidak mudah putus asa.
Ruang lingkup pembelajaran sains meliputi isi
bahan kajian dan bidang pengembangan pembelajaran. Isi bahan kajian meliputi
materi atau disiplin yang terkait dengan bumi dan jagat raya (ilmu bumi), ilmu
hayati, dan ilmu fisika-kimia. Pembelajaran sains di kelas A Yayasan AL-KAMAL
meliputi ilmu kajian fisika tentang ‘Mengapung dan Tenggelam’.
Model program pengembangan pembelajaran sains
meliputi 3 pendekatan:
1) Pendekatan
situasional.
Pendekatan ini muncul secara spontan, artinya
muncul berdasarkan minat anak secara tiba-tiba.
2) Pendekatan
terpisah atau tersendiri.
Pembelajaran model pendekatan ini dilaksanakan
secara khusus dan tersendiri tanpa mencampurkan dengan kegiatan yang lain.
3) Pendekatan
merger/terintegrasi.
Pendekatan ini dilaksanakan dengan menggabungkan pembelajaran sains
dengan bidang ilmu lainnya.
Model pendekatan pembelajaran yang dilakukan di
kelas A Yayasan AL-KAMAL ialah pendekatan terpisah atau tersendiri, guru memang
khusus merencanakan pembelajaran sains secara terprogram dan mengikuti
perkembangan anak agar proses pembelajaran lebih efektif dan bermakna bagi
anak.
3. Kesimpulan
dan Saran
3.1
Kesimpulan
Dari kegiatan
observasi yang dilaksanakan di TK AL-KAMAL yang beralamat di jalan Tegal Sari, Lau
Dendang. Dapat ditarik kesimpulan bahwa pembelajaran sains yang dilaksanakan
sudah hampir mencakup materi pembelajaran sains yang diperoleh di bangku
kuliah. Pembelajaran dilaksanakan tidak hanya dengan penyampain materi, namun
dilakukan juga dengan eksperimen. Hakikat sains terlihat dalam pembelajaran
sains yang dilakukan oleh guru-guru di kelas A TK AL-KAMAL. Hakikat sains
terdiri dari proses, produk dan sikap, terkhusus pada anak usia dini hakikat
sains yang perlu dan sudah bisa diterapkan adalah proses dan sikap sains, tapi
tidak menutup kemungkinan untuk produk
sains. Dari kegiatan yang dilakukan, anak-anak memperoleh keterampilan proses
dan juga sikap saintis serta menghasilkan produk ataupun hasil yaitu berupa fakta
bahwa telur yang dimasukkan ke dalam larutan air garam akan mengapung. Kegiatan observasi ini memberikan semua jawaban akan tujuan yang hendak dicapai dalam
pelaksanaan kegiatan observasi.
3.2
Saran
Sesungguhnya
kesempurnaan adalah milik Tuhan yang Maha Esa, Namun, dari pengamatan kami saat
observasi di TK AL-KAMAL terdapat
sedikit kekurangan dalam pembelajaran sains. Saat proses eksperimen yang
dilakukan selesai guru memberikan penegassan penyebab telur dapat mengapung.
Alangkah lebih baik lagi pembelajaran sains yang dilakukan, jika guru
memberikan lembar kerja kepada anak sebagai tolak ukur atau alat evaluasi
terhadap pemahaman anak terhadap kegiatan yang dilakukan. Lembar kerja yang
diberikan oleh guru dapat berupa lembar kerja yang berisi gambar air larutan
garam dan air tawar. Mintalah anak untuk memberikan lambang bintang ataupun
senyuman terhadap air garam atau air laut jika hal tersebut merupakan penyebab
telur bisa mengapung. Dalam mengisi lembar kerja anak perlu dibantu oleh guru
yaitu guru memberikan arahan tentang cara pengisian lembar kerja yang
disediakan.
DAFTAR
PUSTAKA
Nugraha, Ali.2005.Pengembangan Pembelajaran Sains pada Anak Usia Dini : Jakarta. DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL
Yulianti,
Dwi. 2010. Bermain Sambil Belajar Sains di Taman Kanak-Kanak: Jakarta. PT
INDEKS
Tidak ada komentar:
Posting Komentar