Sabtu, 25 April 2015

Artikel Sains Anak Usia Dini


Pengamatan Pelaksanaan Pembelajaran Sains di Yayasan TK AL-KAMAL
Masyunita siregar
Nona Ira Rizky
Windi Nurika

ABSTRAK
Keberhasilan pembelajaran sains yang dilakukan di sekolah atau lembaga Pendidikan Anak Usia Dini tergantung oleh guru yang notabene sebagai perancang dan fasilitator. Jika guru tidak memunculkan sikap sains kepada anak maka anak tidak akan mengetahui apapun tentang sains tersebut. Tolak ukur untuk melihat keberhasilan pembelajaran sains di PAUD/TK dapat diidentifikasi dari hakikat sains yang muncul dari pembelajaran sains tersebut.Pengamatan ini bertujuan melihat pembelajaran sains secara langsung, dan melihat penerapan hakikat sains di lapangan terutama proses dan sikap sains. Observasi ini dilakukan dengan cara pengamatan secara langsung di TK AL-KAMAL dan juga melalui wawancara dengan guru dan murid di kelas A TK AL-KAMAL. Wawancara yang dilakukan adalah dengan cara wawancara terbuka, yaitu wawancara atau perbincangan berlangung tanpa ada daftar pertanyaan yang disiapkan terlebih dahulu. Setelah melakukan observasi ini, kami memperoleh hasil tentang pembelajaran sains yang dilakukan di TK-AL-KAMAl. Pembelajaran sains dilakukan dengan perencanaan yang matang,  salah satu buktinya adalah penyediaan waktu atau hari khusus yaitu hari sabtu untuk kegiatan eksperimen. Alasanya adalah agar kegiatan eksperimen yang dilakukan bisa dengan maksimal dan pembelajaran lainnya tidak terganggu dengan kegiatan eksperimen. Saat pembelajaran sains berlangsung, terlihat perencanaan yang begitu matang dari guru.Pengelolaan kelas yaitu bervariasi kategori klasikal saat di dalam kelas dan kelompok saat di luar kelas. Seluruh kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan mendorong anak untuk memilki keterampilan  proses sains dan memiliki sikap saintis yaitu tidak mudah putus asa dengan eksperimen yang tidak berlangsung mulus pada percobaan pertama, serta sikap saintis lainnya. Diakhir pembelajaran guru memberi penegasan terhadap anak murinya tentang penyebab telur bisa terapung.
kata kunci : kegiatan eksperimen, telur terapung.



1.      PENDAHULUAN
1.1.LATAR BELAKANG
Dari sudut bahasa, sains atau Science (bahasa inggris), berasal dari bahasa Latin, yaitu dari kata Scientia artinya pengetahuan. Secara keseluruhan, sains dapat dipandang sebagai kesatuan dari produk, proses dan sikap. Sains termasuk bidang ilmu yang dipelajari oleh berbagai tingkat pendidikan termasuk pendidikan anak usia dini.
Menurut UU No.20 Tahun 2003 tentang sisdiknas menyatakan bahwa:
“Pendidikan Anak Usia Dini adalah suatu upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai usia enam tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut”.
Dari pengertian diatas kita tahu bahwa anak usia dini membutuhkan rangsangan dari berbagai pihak di lingkungannya. Salah satu yang terpenting untuk diberi kepada mereka ialah pembelajaran sains.
Namun beberapa tahun terakhir ini, hasil belajar sains menunjukkan hasil yang kurang memuaskan. Menurut hasil penelitian Trends in international Mathematics and Scienty Study (TIMSS), kemampuan dan daya tangkap sains anak Indonesia pada tahun 2004 berada berada pada peringkay ke-34 dari 38 negara. Sedangkan pada kompetisi International Junior Science Olympiade (IJSO) tahun 2006 tim Indonesia berada di peringkat keempat, dibawah Korea Selatan,Taiwan, dan Rusia. Hal ini menunjukkan bahwa penyadaran sains pada generasi penerus harus terus menerus dilakukan mulai dari usia dini hingga dewasa karena masa golden age akan mudah menyimpan dan mengingat sesuatu.
Keberhasilan pembelajaran sains, ada tidaknya pembelajaran sains yang diperoleh anak semua itu tergantung oleh guru yang notabene sebagai perancang dan fasilitator. Jika guru tidak memunculkan sikap sains kepada anak maka anak tidak akan mengetahui apapun tentang sains tersebut.
Sehubungan dengan permasalahn diatas maka peneliti bertujuan untuk membuat suatu penelitian yang berjudul Pelaksanaan Pembelajaran Sains siswa TK A di Yayasan AL-KAMAL.
1.2.Tujuan
a.       Untuk melihat pembelajaran sains secara langsung
b.      Untuk melihat penerapan hakikat sains di lapangan terutama
Proses dan sikap sains
1.3.Manfaat
a.       Menambah pemahaman pembelajaran sains secara praktek.
b.      Memberikan  pengalaman langsung dalam pembelajaran sains
c.       Dapat  membandingkan  pemahaman pembelajaran sains secara  teori dan praktek.





2.      Data Hasil Observasi dan Pembahasan
2.1.Data Hasil Observasi
Tabel pelaksanaan pembelajaran selama berlangsung pembelajaran di kelas:
Aspek yang diobservasi
Fakta yang ditemukan
Perencanaan
Apakah pembelajaran dipersiapkan dengan baik?
Ya
Pembelajaran
1.      Apakah siswa aktif terlibat secara mental (berpikir)?
2.      Apakah pembelajaran terkait dengan kehidupan nyata (Kontekstual)?
3.      Apakah pembelajaran mendorong berpikir tingkat tinggi (kritis, mengambil keputusan, memecahkan masalah, kreatif)?
4.      Apakah pembelajaran melayani gaya belajar siwa  yang berbeda-beda?
5.      Apakah pembelajaran mendorong  untuk berinteraksi multi arah (siswa-siswa-guru)?
6.      Apakah pembelajaran menggunakan lingkungan sebagai media/ sumber belajar?
7.      Apakah pemberian tugas yang bermakna (mengaktifkan siswa, memotivasi, menantang, kontekstual, mengembangkan aktivitas penyelidikan)?
8.      Apakah pengelolaan siswa bervariasi (klasikal, kelompok, individu)?
9.      Jika ada pengelolaan kelompok, apakah siswa mencari dan membahas informasi secara aktif?
10.  Apakah bentuk pengelolaan (klasikal, kelompok, individu) sesuai dengan tugas yang diberikan?
11.  Apakah strategi pembelajaran mengaktifkan semua siswa, menumbuhkan kreativitas, berpikir, berbuat, efektif mencapai tujuan, dan menyenangkan (tidak membuat siswa stress/tertekan/takut salah?
12.  Apakah variasi  penggunan media dan sumber belajar?
13.  Penugasan menghasilkan karya  (kelompok dan individu)
14.  Upaya mendorong siswa sehingga menghasilkan karya (individu/kelompok)
15.  Apakah anak mampu merefleksikan hasil pembelajaran?

Ya

Ya

Ya



Tidak, karena kegiatannya(eksperimen) dilakukan secara berkelompok
Ya

Ya

Ya

Ya




Ya ,klasikal dan kelompok

Ya

Ya kelompok sesuai dengan tugas yang diberikan


Ya





Ya, ada gelas kaca dan plastic dan ada yang luas ada yang sempit
Ya

Ya


Ya

Manajemen Kelas
1.      Apakah ada kesepakatan tata tertib kelas yang perlu dipatuhi?
2.      Apakah penataan tempat duduk memudahkan untuk melakukan kegiatan belajar?
3.      Apakah ada pengaturan peran anggota kelompok
4.      Apakah penggunaan alat dan sumber belajar diatur dengan baik?
5.      Apakah  penataan lingkungan belajar diseting secara bervariasi (didalam kelas, diluar kelas)?


Ya

Ya


Tidak

Ya

Ya



Penilaian
1.   Apakah guru memantau proses belajar siswa?
2.   Apakah guru memberikan umpan balik terhadap hasil kerja siswa


Ya

Ya


           


Pengamatan atau observasi yang dilaksanakan di Yayasan Al-kamal khususnya di TK kelas A, kami memperoleh data sebagai berikut. Kegiatan sains yang dilakukan di kelas tersebut telah dipersiapkan secara matang dan dipersiapkan jauh-jauh hari. Dan sesuai penuturan guru di kelas tersebut kegiatan eksperimen dilaksanakan setiap hari sabtu dengan tujuan kegiatan tidak mengganggu aktivitas lain dan juga agar eksperimen yang dilaksanakan bisa dilakukan secara maksimal. Sebelum kegiatan eksperimen terhadap telur, guru terlebih dahulu mengemukakan atau memberi gambaran tentang eksperimen yang akan dilakukan. Disini guru menggunakan bahasa yang mudah dimengerti oleh anak yaitu mengganti kata mengapung dengan kata terbang.
            Sebelum kegiatan eksperimen dilakukan diluar kelas guru terlebih dahulu memberikan penjelasan atau gambaran tentang eksperimen tersebut di dalam kelas dengan pengelolaan klasikal. Dimana semua murid duduk melingkar dan salah satu guru berada ditengah anak-anak untuk memberi gambaran dan juga stimulus kepada anak. Disini guru menjelaskan atau menggambarkan dengan mengaitkan kepada kegiatan sehari hari atau yang sering di lihat oleh anak. Yaitu seperti menanyakan tentang apa saja yang dilakukan anak ataupun orang tua mereka saat dirumah terhadap telur. Kemudian guru mulai mengarahkan kepada kegiatan yang akan dilakukan. Setelah minat anak muncul guru mengarahkan anak murid untuk menuju ke luar kelas dan kami juga turut membantu mengarahkannya. Sesuai dengan kesepakatan para guru di kelass A anak duduk secara berkelompok dimana satu kelompok terdiri dari tiga anak dan jarak tempat duduk antar kelompok diatur sedimikian rupa sehingga tidak saling mengganggu antar kelompok.
Alat dan bahan yang telah disiapkkan oleh ibu guru dibagikan secara bergiliran oleh guru yaitu dengan membagikan gelas yang bervariasi seperti gelas kaca dengan ukuran panjang, gelas yang lebih pendek dengan diameter yang lebih kecil dan juga menggunakan cangkir. Setiap anggota kelompok mempunyai satu media gelas ataupun cangkir. Kemudian guru membagikan satu  telur  untuk  masing-masing kelompok dan guru meminta mereka untuk memasukkan telur tesrbut kedalam media gelas ataupun cangkir dan mengamatinya. Selanjutnya guru meminta anak untuk mengambil kembali telur tersebut dan meminta anak memasukkan garam kedalam gelas atau cangkir yang berisi air tersebut dan melarutkannya dengan mengaduk  dengan sendok yang telah dibagi terlebih dahulu. Setelah anak-anak yakin bahwa garam telah larut dengan air, guru meminta anak untuk memasukkan kembali telur tadi dan mengamati apa yang terjadi dengan telur. Beberapa anak berhasil dalam satu kali percobaan dan mereka sangat antusias saat melihat telurnya terbang sesuai yang dikatakan  ibu gurunya terlebih dahulu. Namun, ada beberapa kelompok yang tidak berhasil dalam percobaan pertama dan guru meminta anak untuk menambahkan garam kedalan gelas atau cangkir mereka dan mengaduknya kembali. Setelah itu mereka memasukkan kembali telur kedalam gelas atau cangkir. Dan kelompok tersebut pun berhasil dalam percobaanya. Dan salah satu kelompok yang mendapatkan ukuran gelas yang lebih pendek dan diameter lebih kecil telurnya tidak dapat terbang sesuai harapan anak-anak karenadiameter gelas dan telur tidak seimbang.
Setelah kegiatan eksperimen yanmg dilakukan selesai guru mengajak anak-anak untuk menunjukkan karya atau hasil eksperimen mereka sambil guru mengambil foto mereka.Hal ini merupakan bentuk dokumentasi eksperimen anak anak, jelas ibu Nur saat diwawancara. Anak-anakpun kembali masuk kelas dan di dalam kelas guru memberikan umpan balik tentang kegiatan eksperimen tersebut dengan menanyakan “kenapa telur tersebut bisa terbang?”.Dan  jawaban anak-anak sangat beragam, ada yang mengatakan karena ada sayapnya, dan ada juga yang mengatakan karena garam yang dimasukkan kedalam air tersebut. Setelah ada jawaban yang benar yaitu karena garam maka guru memberikan penegas akan jawaban tersebut. Hal ini untuk meluruskan pemahaman anak-anak.
2.2 Pembahasan Hasil Observasi
Dari hasil analisis yang kami lakukan dapatlah diketahui, sains merupakan pengetahuan umum yang mencakup dimensi produk, proses dan sikap yang didapat melalui observasi maupun konseptual. Pembelajaran sains di TK A AL KAMAL dilakukan melalui dimensi produk yakni anak diajak untuk menemukan fakta apakah telur tersebut  tenggelam atau mengapung. Penerapan dimensi proses yang dilakukan  ialah anak diajak untuk berfikir kritis dan melewati beberapa tahapan keterampilan proses yakni:
1.      Penggunaan alat.
Anak dapat menggunakan alat sesuai dengan kegunaannya sehingga ia akan mudah dalam menjalankan eksperimen.
2.      Meramalkan.
Sebelumnya guru telah menjelaskan kepada anak tentang apa yang mereka lakukan. Lalu guru memberikan stimulus  untuk merangsang rasa ingin tahu dan opini anak tentang hal apa yang akan terjadi terhadap eksprimen yang akan dilakukan.
3.      Mengamati
Anak mengamati berjalannya proses pembelajaran. Semula ia melakukan percobaan telur dimasukkan ke dalam air lalu ia mengamatinya. Selanjutnya ia mengamati telur yang dimasukkan ke air larutan garam.
4.      Mengklasifikasikan.
Dengan mengamati telur yang dimasukkan ke air biasa dan air garam tersebut anak tahu bahwa telur yang dimasukkan ke air garam dapat mengapung.
5.      Mengkomunikasikan.
Anak mampu untuk menceritakan kembali tentang apa yang tadi mereka lakukan dan mengapa hal itu terjadi.
Menurut Abruscato, pembelajaran sains bertujuan untuk mengembangkan intelektual, emosional, fisik atau aspek kognitif, afektif dan psikomotorik anak. Hal ini sejalan dengan analisis pembelajaran di Kelas A yang kami lakukan, pembelajaran sains membuat anak mendapatkan suatu pengetahuan baru bahwa telur yang dimasukkan kedalam air larutan garam akan terbang (mengapung). Aspek emosional anak pun muncul ketika diantara mereka ada percobaannya yang tidak berhasil. Mereka terlihat kecewa akan hasil yang ditemukan, apalagi ketika melihat kelompok yang lain berhasil melakukan eksprimen. Sehingga anak terus mencoba melakukan eksprimen tersebut dengan menambahkan garam lebih banyak lagi kedalan air. Pengembangan pembelajaran sains sebagai produk terkait dengan pengenalan dan penguasaan fakta, konsep, teori dan prinsip. Hal ini dapat dilihat bahwa fakta yang ditemukan telur mengapung karena larutan air garam. Anak akan berhasil menguasai dimensi produk jika ia telah mampu menjelaskan fakta-fakta yang terkait dengan eksperimen yang ia lakukan kepada gurunya. Selanjutnya pengembangan pembelajaran sains sebagai proses yakni menguasai cara-cara kerja dalam percobaan yang dilakukan.  Ini terlihat bahwa anak mampu mengamati, meramalkan, mengklasifikasikan, memecahkan masalah dan menyimpulkan. Pengembangan pembelajaran sains saat anak-anak memiliki sikap sainstific, ini terlihat ketika salah satu kelompok belum berhasil dalam eksperimennya ia tetap tidak mudah putus asa.
Ruang lingkup pembelajaran sains meliputi isi bahan kajian dan bidang pengembangan pembelajaran. Isi bahan kajian meliputi materi atau disiplin yang terkait dengan bumi dan jagat raya (ilmu bumi), ilmu hayati, dan ilmu fisika-kimia. Pembelajaran sains di kelas A Yayasan AL-KAMAL meliputi ilmu kajian fisika tentang ‘Mengapung dan Tenggelam’.
Model program pengembangan pembelajaran sains meliputi 3 pendekatan:
1)      Pendekatan situasional.
Pendekatan ini muncul secara spontan, artinya muncul berdasarkan minat anak secara tiba-tiba.
2)      Pendekatan terpisah atau tersendiri.
Pembelajaran model pendekatan ini dilaksanakan secara khusus dan tersendiri tanpa mencampurkan dengan kegiatan yang lain.
3)      Pendekatan merger/terintegrasi.
Pendekatan ini dilaksanakan dengan menggabungkan pembelajaran sains dengan bidang ilmu lainnya.
Model pendekatan pembelajaran yang dilakukan di kelas A Yayasan AL-KAMAL ialah pendekatan terpisah atau tersendiri, guru memang khusus merencanakan pembelajaran sains secara terprogram dan mengikuti perkembangan anak agar proses pembelajaran lebih efektif dan bermakna bagi anak.
3. Kesimpulan dan Saran
3.1 Kesimpulan
            Dari kegiatan observasi yang dilaksanakan di TK AL-KAMAL yang beralamat di jalan Tegal Sari, Lau Dendang. Dapat ditarik kesimpulan bahwa pembelajaran sains yang dilaksanakan sudah hampir mencakup materi pembelajaran sains yang diperoleh di bangku kuliah. Pembelajaran dilaksanakan tidak hanya dengan penyampain materi, namun dilakukan juga dengan eksperimen. Hakikat sains terlihat dalam pembelajaran sains yang dilakukan oleh guru-guru di kelas A TK AL-KAMAL. Hakikat sains terdiri dari proses, produk dan sikap, terkhusus pada anak usia dini hakikat sains yang perlu dan sudah bisa diterapkan adalah proses dan sikap sains, tapi tidak menutup kemungkinan untuk  produk sains. Dari kegiatan yang dilakukan, anak-anak memperoleh keterampilan proses dan juga sikap saintis serta menghasilkan produk ataupun hasil yaitu berupa fakta bahwa telur yang dimasukkan ke dalam larutan air garam akan mengapung.    Kegiatan observasi ini memberikan semua  jawaban akan tujuan yang hendak dicapai dalam pelaksanaan kegiatan observasi.
3.2 Saran
            Sesungguhnya kesempurnaan adalah milik Tuhan yang Maha Esa, Namun, dari pengamatan kami saat observasi di TK AL-KAMAL terdapat  sedikit kekurangan dalam pembelajaran sains. Saat proses eksperimen yang dilakukan selesai guru memberikan penegassan penyebab telur dapat mengapung. Alangkah lebih baik lagi pembelajaran sains yang dilakukan, jika guru memberikan lembar kerja kepada anak sebagai tolak ukur atau alat evaluasi terhadap pemahaman anak terhadap kegiatan yang dilakukan. Lembar kerja yang diberikan oleh guru dapat berupa lembar kerja yang berisi gambar air larutan garam dan air tawar. Mintalah anak untuk memberikan lambang bintang ataupun senyuman terhadap air garam atau air laut jika hal tersebut merupakan penyebab telur bisa mengapung. Dalam mengisi lembar kerja anak perlu dibantu oleh guru yaitu guru memberikan arahan tentang cara pengisian lembar kerja yang disediakan.
DAFTAR PUSTAKA
Nugraha, Ali.2005.Pengembangan Pembelajaran  Sains pada Anak Usia Dini : Jakarta. DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL
Yulianti, Dwi. 2010. Bermain Sambil Belajar Sains di Taman Kanak-Kanak: Jakarta. PT INDEKS

Tidak ada komentar:

Posting Komentar