Sabtu, 05 September 2015

PENGARUH BERMAIN PERAN TERHADAP PERKEMBANGAN KOGNITIF, BAHASA DAN SOSIAL EMOSIONAL ANAK USIA DINI



PENGARUH BERMAIN PERAN TERHADAP PERKEMBANGAN KOGNITIF, BAHASA DAN SOSIAL EMOSIONAL ANAK USIA DINI

Windi Nurika
NIM: 1141113038

ABSTRAK

Anak usia dini adalah sosok individu yang sedang mengalami fase fundamental dimana dibutuhkan rangsangan yang tepat untuk kehidupan dimasa yang akan datang salah satunya melalui  pembelajaran yang bermakna yakni bermain. Bermain adalah suatu kegiatan yang dilakukan tanpa ada tujuan tertentu serta semata-mata untuk kesenangan. Melalui bermain anak akan mudah untuk belajar karena ia melakukan dengan senang hati dan tentunya tidak membosankan salah satunya dengan bermain peran, anak akan mudah untuk mengekplorasi dan berekpresi terhadap dirinya dan perasaannya karena bermain bagi anak adalah hal yang menyenangkan sehingga ia akan mudah untuk belajar dan mengembangkan aspek kognitif, bahasa maupun sosemnya. Hal ini tidak terlepas dari peran guru dan peran orang tua untuk memfasilitasinya sehingga perkembangannya pun semakin optimal.

kata kunci : bermain peran, aspek perkembangan, anak usia dini.

Pengaruh Metode Bermain Peran dan Konsep Diri terhadap Kemampuan Berbicara Anak Usia Dini (Eli Tohanan Tua Pane)



PENDAHULUAN.
Menurut UU No.20 Tahun 2003 tentang sisdiknas menyatakan bahwa:
“Pendidikan Anak Usia Dini adalah suatu upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai usia enam tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut
Anak dilahirkan kedunia sebagai seseorang yang dianugerahi Tuhan dengan berbagai potensi dan kecerdasan yang dimiliki. Usia prasekolah yang berlangsung antara usia 3-6 tahun merupakan masa awal penting untuk perkembangan aspek kognitif, bahasa, dan social emosional, Setiap anak memiliki kemampuan actual, kreatif dan produktif dalam dirinya sehingga diperlukan bimbingan dari orang dewasa baik orang tua maupun guru agar mengetahui cara mengembangkan anak melalui pembelajaran yang bermakna dan menarik yang didapat anak melalui penyelenggaraan PAUD.
Dewasa ini, banyak orang tua yang belum mengetahui bagaimana pemberian stimulus yang tepat bagi pekembangan anaknya. Orang tua hanya menginginkan anaknya memiliki kemampuan kognitif saja, ini terbukti bahwa orang tua memasukkan anak mereka ke TK, RA maupun KB dengan tujuan anaknya pandai menulis, membaca dan berhitung. Mereka menuntut sekolah untuk menerapkan itu secara maksimal dengan tujuan agar anak mudah bila memasuki jenjang SD. Padahal bukan hanya aspek kognitif saja yang harus dikembangkan  tetapi ada juga aspek bahasa dan social emosional,. Begitupun dengan guru, mereka yang mengajar di lembaga PAUD dan bukan lulusan sarjana PAUD tidak mengetahui bagaimana cara memberi stimulus maupun pembelajaran yang tepat bagi anak tanpa memperhatikan tahap perkembangan anak. Guru hanya sekedar memberi pembelajaran tanpa dimaknai oleh anak dan tentunya hal itu dikembalikan lagi pada keinginan orang tua agar anaknya cerdas dalam calistung.
Lalu timbul suatu pertanyaan, bagaimana cara yang tepat untuk mengembangkan aspek tersebut pada anak usia prasekolah? Jawabannya hanya satu yakni melalui bermain. Mengapa harus bermain? Bermain adalah suatu kegiatan yang dilakukan oleh anak tanpa ada paksaan dari pihak manapun dan tanpa ada tujuan apapun semata-mata hanya untuk kesenangan dan sudah menjadi kebutuhan untuk anak. Di sekolah, guru bisa menerapkan proses pembelajaran melalui kegiatan bemain salah satunya bermain peran. Dengan begitu, anak akan sangat mudah mendapatkan banyak pengetahuan dan keterampilan baru termasuk juga mengembangkan aspek kognitif, bahasa dan social emosional melalui kegiatan bermainnya, sehingga ia akan lebih siap untuk memasuki jenjang berikutnya.

PEMBAHASAN
A.    Pandangan Psikologi Pendidikan
1.      Hakikat Anak Usia Dini
Siapakah anak usia dini itu? Setiap orang memiliki jawaban yang berbeda-beda berdasarkan sudut pandangannya masing-masing. Termasuk juga para ahli, secara umum pengertian anak usia dini  dikategorikan menjadi 3 tinjaun dimensi yaitu:
1)      Tinjauan anak berdasarkan dimensi usia kronologis
Hakikat anak usia dini dalam Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional No. 20 Tahun 2003 adalah kelompok manusia yang berusia 0 sampai dengan 6 tahun.
Hurlock mengatakan bahwa masa kanak-kanak awal adalah usia prasekolah atau kelompok usia 2 sampai 6 tahun.
2)      Tinjauan anak berdasarkan sudut pandang filosofis.
Menurut Ki Hajar Dewantoro, anak ialah makhluk hidup yang memiliki kodratnya masing-masing. Kaum pendidik hanya membantu menuntun kodratnya ini, jika anak memiliki kodrat yang tidak baik, maka tugas  pendidik untuk membantunya menjadi baik. Jika anak sudah memiliki kodrat yang baik, maka ia akan lebih baik lagi jika dibantu melalui pendidikan.
3)      Tinjauan anak berdasarkan karakteristik perkembangannya.
Gesel berpendapat bahwa dalam proses perkembangan anak konsep kematangan adalah sangat mendasar. Ia berpendapat bahwa anak diarahkan “from within (menjadi), by the action of the genes”. Selanjutnya  Rousseau berpendapat bahwa  perilaku adalah hasil dari proses tumbuh kembang sesuai hukum alam. Menurut Bredekamp, karakteristik anak usia dini meliputi:
a.       Anak bersifat unik. Masing-masing anak memiliki karakteristik sendiri dan tentunya berbeda satu sama lain sekalipun ia kembar identik.
b.      Anak mengekspresikan perilakunya secara spontan. Perilaku yang ditampilkan anak relative asli tanpa ada kebohongan apalagi hanya dibuat-buat.
c.       Aktif dan energik. Hal ini memang sudah melekat karna anak suka bereksplorasi sesuai dengan maunya.
d.      Rasa  ingin tahu yang tinggi. Anak banyak mempertanyakan hal yang baru pertama kali ia  lihat.
e.       Eksploratif. Anak suka menjelajah untuk mendapatkan sesuatu yang baru.
f.       Kaya dengan fantasi. Anak mempunyai daya imajinatif  yang tinggi salah satunya ia dapat melalui bermain peran.
g.      Anak masih mudah frustasi.

Berdasarkan penjelasan terkait dengan anak usia dini diatas maka dapat diambil kesimpulan bahwa anak usia dini merupakan sosok individu yang berada dalam rentangan usia 0 sampai 6 tahun dan memiliki karakteristik masing-masing baik dari  segi kognitif, bahasa, sosem, dan fisik motorik. Dimana anak usia dini yang notabene usia emas dan  perlu dukungan dari lingkungannya demi kemajuan individu anak.

2.      Tujuan Pendidikan Anak Usia Dini
Tujuan PAUD pada umumnya ialah mengembangkan berbagai potensi anak sejak dini yaitu dari aspek agama, kognitif, bahasa, fisik motorik dan sosem sebagai persiapan untuk hidup dan dapat menyesuaikan diri dengan lingkungannya.
Hal tersebut sejalan dengan hakikat anak usia dini dimana anak membutuhkan stimulus dari lingkungannya termasuk guru dan orang tua, salah satunya bisa didapatkan melalui Pendidikan Anak Usia Dini.

B.     Konsep Bermain Peran
1.      Pengertian Bermain
Bermain adalah kegiatan yang terjadi secara alamiah pada anak, anak tidak perlu dipaksa untuk bermain. Menurut Moyles, bermain merupakan komponen utama untuk perkembangan social anak. Sigmund  Freud sebagai Bapak Psikoanalisa memandang bermain sebagai fantasi atau lamunan. melalui bermain seseorang dapat memproyeksikan harapan-harapan ataupun konflik-konflik serta pengalaman yang tidak menyenangkan melalui objek bermain.
Pada dasarnya, bermain memiliki dua pengertian yang harus dibedakan. Bermain menurut pengertian yang pertama dapat bermakna sebagai sebuah aktifitas bermain yang murni mencari kesenangan tanpa mencari “menang kalah” ( play). Sedangkan yang kedua disebut sebagai aktifitas bermain yang dilakukan dalam rangka mencari kesenangan dan kepuasan, namun ditandai dengan adanya pencarian ”menangkalah” (game). Peran (role) bisa diartikan sebagai cara seseorang berperilaku dalam posisi dan situasi tertentu.
2.      Pengertian Bermain Peran.
Bermain peran disebut juga main simbolis, pura-pura, make-beliave, fantasi, imajinasi, atau main drama, sangat penting untuk perkembangan kognisi, social, dan emosi anak usia 3-6 tahun. Bermain peran terdiri dari 2 bagian yaitu:
1)      Makro
Anak berperan sesungguhnya dan menjadi seseorang atau sesuatu dengan menggunakan alat tertentu. Misalnya ia berperan sebagai dokter maka ia mengenakan baju putih dan memakai alat-alat dokter.
2)      Mikro
Anak memegang atau menggerak-gerakkan benda-benda berukuran kecil untuk menyusun adegan, benda itu diibaratkan sesuatu. Misalnya anak memegang pulpen lalu ia menganggap pulpen tersebut pesawat.

Bermain peran termasuk salah satu jenis bermain aktif, diartikan sebagai pemberian atribut tertentu terhadap benda, situasi dan anak memerankan tokoh yang ia pilih. Apa yang ditampilkan anak melalui bermain peran sesuai dengan tokoh atau objek yang sering ia lihat dan ia menampilkannya seperti memang benar-benar real.
Kegiatan berrmain peran umumnya disukai dan sering dilakukan anak usia 2 sampai 8 tahun, dapat bersifat produktif dan kreatif dan bisa juga reproduktif (pengulangan dari situasi yang diamati anak sehari-hari). Bersifat produktif disini maksudnya anak menciptakan pengetahuan baru dan mampu memecahkan masalah yang ia dapatkan melalui kegiatan bermain peran, kreatif maksudnya anak mampu menciptakan skenario baru tanpa berpacu pada rencana bermain yang sudah ada, dan reproduktif yakni ia memainkan
Menurut tahapan perkembangan bermain Jean Piaget yakni salah satunya symbolic atau make-believe  play  yaitu terjadi pada usia 2-7 tahun yang ditandai dengan bermain khayal atau pura-pura. Anak mulai banyak bertanya dalam kegiatan bermainnya, mencobakan berbagai hal berkaitan dengan konsep angka, ruang, kuantitas dan sebagainya.

C.    Perkembangan Kognitif, Bahasa dan Sosem Anak Usia dini
Perkembangan merupakan proses perubahan yang bersifat kuantitatif yang menyangkut aspek mental/psikologis. Diantaranya perkembangan tersebut meliputi perkembangan kognitif,  bahasa, social emosional yang terjadi pada anak usia dini.
Perkembangan kognitif ialah perkembangan yang terjadi pada individu berkaitan dengan pengetahuan yang ia dapatkan. Menurut Jean Piaget, perkembangan kognitif seseorang diperoleh melalui proses asimilasi dan akomodasi. Asimilasi adalah proses penggabungan informasi baru yang ditemui dalam realitas dengan struktur kognisi seseorang. Akomodasi adalah mengubah struktur kognisi seseorang untuk diselaraskan atau meniru apa yang diamati dalam realitas. Atinya individu mendapatkan pengetahuan baru secara aktif melalui apa yang ia lihat.
Vygotsy meyakini bahwa bermain dapat meningkatkan kognisi seseorang dan menambah nilai sosial emosional anak. Ini dapat kita lihat jika anak melakukan bermain peran maka mereka lebih cenderung kepada bermain peran makro karena dilakukan dengan sesama teman sebayanya atau disebut sosiodrama. Misalnya saat anak bermain peran sebagai ibu-ibu yang pergi ke pasar untuk membeli bahan-bahan masak. Ada anak yang bermain peran sebagai pembeli dan ada yang berperan sebagai penjual. Hal ini akan menambah pengetahuan baru untuk anak, karena mereka yang sebelumnya belum tau apa yang dilakukan oleh ibunya saat belanja di pasar maka melalui bermain peran yang mereka lakukan bersama-sama anak yang tidak tau tadi menjadi tau karna melihat tingkah laku temannya saat bermain peran. Selain itu melalui bermain anak akan berkreativitas, mereka akan menciptakan skenario-skenario baru yang tidak diduga-duga.
Perkembangan bahasa ialah perkembangan yang terjadi pada individu berkaitan dengan kemampuan berbicara, mendengarkan, dan menulis. Bahasa merupakan alat untuk seseorang dapat berkomunikasi. Oleh karena itu sejak dini perlu diperhatikan perkembangan bahasa anak agar kedepannya tidak ada masalah. Anak mengekspresikan dirinya melalui bahasa yang bisa ia dapatkan melalui bermain peran. Khayalan anak seringkali juga menggambarkan keinginan, perasaan, dan pandangan anak mengenai duia sekelilingnya. Dalam kegiatan bermain ini, anak kerapkali mengubah identitasnya, namanya, cara bicara dan berpakaiannya. Hal tersebut akan menambah kosakata anak. Melalui bermain tersebut ia akan berbicara sesuai dengan scenario ataupun tidak dan tentunya melatih ia untuk berekspresi. Misalnya saat anak bermain peran memarahi bonekanya yang tidak mau makan. Ataupun saat  anak bermain sosiodrama dengan temannya, temannya mengatakan kata yang belum pernah ia dengar nah disitulah bertambah pembendaharaan kata anak.
Perkembangan social ialah proses pemerolehan kemampuan untuk dapat berinteraksi deangan lingkungan dan diterima dalam lingkungan social. Dengan semakin meningkatnya usia  anak maka ia perlu  untuk dipisah dari ibunya agar  dapat mandiri dan bersosialisasi diluar lingkungan rumahnya. Misalnya ketika ia berumur 1-2 tahun diajak bermain cilukba maka ia akan bisa merasakan pengalaman ditinggal ibunya sehingga semakin dia tumbuh besar akan terbiasa.
Dalam bermain peran, perkembangan sosial anak akan meningkat melalui sosiodrama. Anak akan belajar memerankan perilaku social sebagai individu yang berrada di masyarakat. Misalnya saat anak bermain peran sebagai ibu-ibu dan ayah-ayah, guru, pembantu dan lain sebagainya. Ia akan melakukan interaksi dengan teman sebagainya yang sama-sama bermain peran sehingga ia tau bagaimana seseorang berperilaku dalam kelompok sosialnya.
Perkembangan emosi ialah proses yang terjadi pada individu untuk dapat mengendalikan perasaan dan membentuk pribadinya. Dengan bermain seseorang dapat melampiaskan seluruh ketegangannya. Menurut teori Sigmund Freud, bermain sebagai lamunan dimana seseorang dapat memproyeksikan harapan-harapan dan konfliknya melalui objek bermain. Misalnya saat saat anak sedang kesal dengan adiknya lalu ia bermain peran dengan bonekanya dan menganggap boneka tersebut sebagai “adiknya” maka ia akan meluapkan seluruh perasaannya dengan menyiksa boneka tersebut dengan begitu ia akann merasa puas dan lega. Contoh lain misalnya saat anak melakukan kegiatan bermain sosiodrama sebagai orang miskin dan orang kaya. Maka mereka akan merasakan bagaimana rasanya jadi orang kaya dan hal tersebut akan melatih rasa empati anak terhadap orang miskin setelah melakukan bermain peran.
D.    Peran Guru dalam Kegiatan Bermain Peran.
Guru adalah suatu model dimana sebagai tempat bagi anak untuk menirukan perilaku yang ia dapat dari gurunya. Guru adalah pusat anak. Ialah yang menjadi pedoman anak dan dia yang mengatur keberlangsungan pembelajaran. Kebanyakan guru masih menggunakan metode pembelajaran yang hanya itu-itu saja tanpa memvariasikannya. Oleh karena itu perlu bagi guru untuk mengubahnya menjadi suatu kegiatan yang bermakna misalya dengann mempersiapkan bermain peran didalam kelas.
Guru mempersiapkan pelaksanaan pembelajaran bermain peran, misalnya bermain peran seebagai orangorang yang ada didalam gedung bank. Disana ada pegawai bank, ada polisi, ada custumor dan ada satpam. Guru merancang ruangan sedemikian rupa dengan mempesiapkan meja, kkursi, kertas, bolpoin dan stempel kertas. Tentukan pemerannya dan pandu anak untuk melakukannya. Disini guru hanya sebagai pengamat dan evaluator tanpa harus mengatur jalannya kegiatan. Hal ini bertujuan agar  anak dapat berkespresi seseuai dengan kehendaknya agar aspek perkembangannya meningkat.
Jika guru menerapkan metode bermain peran seperti ini maka anak akan mudah belajar. Dalam rancangan ilustrasi diatas bisa kita mengambil penjabaran bahwa dengan bermain peran akan menambah kognisi anak, ini terlihat bahwa anak akan tahu bagaimana berperilaku didalam sebuah bank meskipun ia belum pernah datang kesana. Perkembangan bahasanya pun akan terasah, ketika ia yang berrperan sebagai pegawai bank menanyakan apa yang bisa dibantu kepada pelanggannya lalu mereka melakukan percakapannya ataupun kemampuan menulisnya ketika menulis nominal yang akan ditabung ke bank. Begitupun dengan perkembangan social emosional anak, ia akan tau cara bersosialisasi didalam bank dan cara melayani masyarakat jikalau menjadi polisi.
PENUTUP
Kesimpulan
Bermain peran dapat mempengaruhi perkembangan kognitif, bahasa, dan sosem anak usia dini karena sejatinya bermain adalah kebutuhan mutlak anakdimana disanalah tempat anak untuk memproyeksikan kemampuannya dan mengekspresikan jiwanya. Bermain member kesenangan bagi mereka sehingga mereka akan sangat mudah belajar melalui kegiatan bermain dan tentu saja ini akan mempengaruhi disegala aspek perkembangannya tentunya dengan peran guru yang merancang pembelajaran berbasis bermain peran tersebut.
DAFTAR PUSTAKA
Nasriah. 2002. Konsep Dasar Paud. Medan: UNIMED PRESS

Sugianto, Mayke. 1995. Bermain, Mainan, dan Permainan. Jakarta: Departemen Pendidikan
dan Kebudayaan
Mutiah, Diana. 2010. Psikologi Bermain Anak Usia Dini. Jakarta: K E N C A N A
Tohanan, Eli. Sahat. 2014. Pengaruh Metode Bermain Peran dan Konsep Diri terhadap Kemampuan Berbicara Anak Usia Dini. Jurnal Teknologi Pendidikan.. Vol.7 No.1. http://digilib.unimed.ac.id/pengaruh-metode-bermain-peran-dan-konsep-diri-terhadap-kemampuan-berbicara-anak-usia-dini-di-kelompok-bermain-kota-medan-26269.html. 22 April 2015



Tidak ada komentar:

Posting Komentar