PENGARUH
BERMAIN PERAN TERHADAP PERKEMBANGAN KOGNITIF, BAHASA DAN SOSIAL EMOSIONAL ANAK
USIA DINI
Windi Nurika
NIM:
1141113038
ABSTRAK
Anak usia dini adalah sosok individu
yang sedang mengalami fase fundamental dimana dibutuhkan rangsangan yang tepat
untuk kehidupan dimasa yang akan datang salah satunya melalui pembelajaran yang bermakna yakni bermain. Bermain
adalah suatu kegiatan yang dilakukan tanpa ada tujuan tertentu serta semata-mata
untuk kesenangan. Melalui bermain anak akan mudah untuk belajar karena ia
melakukan dengan senang hati dan tentunya tidak membosankan salah satunya dengan
bermain peran, anak akan mudah untuk mengekplorasi dan berekpresi terhadap
dirinya dan perasaannya karena bermain bagi anak adalah hal yang menyenangkan
sehingga ia akan mudah untuk belajar dan mengembangkan aspek kognitif, bahasa
maupun sosemnya. Hal ini tidak terlepas dari peran guru dan peran orang tua
untuk memfasilitasinya sehingga perkembangannya pun semakin optimal.
Pengaruh Metode Bermain Peran dan
Konsep Diri terhadap Kemampuan Berbicara Anak Usia Dini (Eli Tohanan Tua Pane)
PENDAHULUAN.
Menurut UU
No.20 Tahun 2003 tentang sisdiknas menyatakan bahwa:
“Pendidikan
Anak Usia Dini adalah suatu upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak
lahir sampai usia enam tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan
pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar
anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut
Anak
dilahirkan kedunia sebagai seseorang yang dianugerahi Tuhan dengan berbagai
potensi dan kecerdasan yang dimiliki. Usia prasekolah yang berlangsung antara
usia 3-6 tahun merupakan masa awal penting untuk perkembangan aspek kognitif,
bahasa, dan social emosional, Setiap anak memiliki kemampuan
actual, kreatif dan produktif dalam dirinya sehingga diperlukan bimbingan dari
orang dewasa baik orang tua maupun guru agar mengetahui cara mengembangkan anak
melalui pembelajaran yang bermakna dan menarik yang didapat anak melalui
penyelenggaraan PAUD.
Dewasa ini,
banyak orang tua yang belum mengetahui bagaimana pemberian stimulus yang tepat
bagi pekembangan anaknya. Orang tua hanya menginginkan anaknya memiliki
kemampuan kognitif saja, ini terbukti bahwa orang tua memasukkan anak mereka ke
TK, RA maupun KB dengan tujuan anaknya pandai menulis, membaca dan berhitung.
Mereka menuntut sekolah untuk menerapkan itu secara maksimal dengan tujuan agar
anak mudah bila memasuki jenjang SD. Padahal bukan hanya aspek kognitif saja
yang harus dikembangkan tetapi ada juga
aspek bahasa dan social emosional,. Begitupun dengan guru, mereka yang mengajar
di lembaga PAUD dan bukan lulusan sarjana PAUD tidak mengetahui bagaimana cara
memberi stimulus maupun pembelajaran yang tepat bagi anak tanpa memperhatikan
tahap perkembangan anak. Guru hanya sekedar memberi pembelajaran tanpa dimaknai
oleh anak dan tentunya hal itu dikembalikan lagi pada keinginan orang tua agar
anaknya cerdas dalam calistung.
Lalu timbul
suatu pertanyaan, bagaimana cara yang tepat untuk mengembangkan aspek tersebut
pada anak usia prasekolah? Jawabannya hanya satu yakni melalui bermain. Mengapa
harus bermain? Bermain adalah suatu kegiatan yang dilakukan oleh anak tanpa ada
paksaan dari pihak manapun dan tanpa ada tujuan apapun semata-mata hanya untuk
kesenangan dan sudah menjadi kebutuhan untuk anak. Di sekolah, guru bisa
menerapkan proses pembelajaran melalui kegiatan bemain salah satunya bermain
peran. Dengan begitu, anak akan sangat mudah mendapatkan banyak pengetahuan dan
keterampilan baru termasuk juga mengembangkan aspek kognitif, bahasa dan social
emosional melalui kegiatan bermainnya, sehingga ia akan lebih siap untuk
memasuki jenjang berikutnya.
PEMBAHASAN
A. Pandangan Psikologi Pendidikan
1. Hakikat Anak Usia Dini
Siapakah
anak usia dini itu? Setiap orang memiliki jawaban yang berbeda-beda berdasarkan
sudut pandangannya masing-masing. Termasuk juga para ahli, secara umum
pengertian anak usia dini dikategorikan
menjadi 3 tinjaun dimensi yaitu:
1)
Tinjauan anak berdasarkan dimensi usia kronologis
Hakikat anak usia dini dalam Undang-Undang Sistem
Pendidikan Nasional No. 20 Tahun 2003 adalah kelompok manusia yang berusia 0
sampai dengan 6 tahun.
Hurlock mengatakan bahwa masa kanak-kanak awal adalah
usia prasekolah atau kelompok usia 2 sampai 6 tahun.
2)
Tinjauan anak berdasarkan sudut pandang filosofis.
Menurut Ki Hajar Dewantoro, anak ialah makhluk hidup
yang memiliki kodratnya masing-masing. Kaum pendidik hanya membantu menuntun
kodratnya ini, jika anak memiliki kodrat yang tidak baik, maka tugas pendidik untuk membantunya menjadi baik. Jika
anak sudah memiliki kodrat yang baik, maka ia akan lebih baik lagi jika dibantu
melalui pendidikan.
3)
Tinjauan anak berdasarkan karakteristik
perkembangannya.
Gesel berpendapat bahwa dalam proses perkembangan anak
konsep kematangan adalah sangat mendasar. Ia berpendapat bahwa anak diarahkan
“from within (menjadi), by the action of the genes”. Selanjutnya Rousseau berpendapat bahwa perilaku adalah hasil dari proses tumbuh kembang
sesuai hukum alam. Menurut Bredekamp, karakteristik anak usia dini meliputi:
a.
Anak bersifat unik. Masing-masing anak memiliki
karakteristik sendiri dan tentunya berbeda satu sama lain sekalipun ia kembar
identik.
b.
Anak mengekspresikan perilakunya secara spontan.
Perilaku yang ditampilkan anak relative asli tanpa ada kebohongan apalagi hanya
dibuat-buat.
c.
Aktif dan energik. Hal ini memang sudah melekat karna
anak suka bereksplorasi sesuai dengan maunya.
d.
Rasa ingin tahu
yang tinggi. Anak banyak mempertanyakan hal yang baru pertama kali ia lihat.
e.
Eksploratif. Anak suka menjelajah untuk mendapatkan
sesuatu yang baru.
f.
Kaya dengan fantasi. Anak mempunyai daya
imajinatif yang tinggi salah satunya ia
dapat melalui bermain peran.
g.
Anak masih mudah frustasi.
Berdasarkan
penjelasan terkait dengan anak usia dini diatas maka dapat diambil kesimpulan
bahwa anak usia dini merupakan sosok individu yang berada dalam rentangan usia
0 sampai 6 tahun dan memiliki karakteristik masing-masing baik dari segi kognitif, bahasa, sosem, dan fisik
motorik. Dimana anak usia dini yang notabene usia emas dan perlu dukungan dari lingkungannya demi
kemajuan individu anak.
2. Tujuan Pendidikan Anak Usia Dini
Tujuan PAUD
pada umumnya ialah mengembangkan berbagai potensi anak sejak dini yaitu dari
aspek agama, kognitif, bahasa, fisik motorik dan sosem sebagai persiapan untuk
hidup dan dapat menyesuaikan diri dengan lingkungannya.
Hal tersebut
sejalan dengan hakikat anak usia dini dimana anak membutuhkan stimulus dari
lingkungannya termasuk guru dan orang tua, salah satunya bisa didapatkan
melalui Pendidikan Anak Usia Dini.
B. Konsep Bermain Peran
1. Pengertian
Bermain
Bermain
adalah kegiatan yang terjadi secara alamiah pada anak, anak tidak perlu dipaksa
untuk bermain. Menurut Moyles, bermain merupakan komponen utama untuk
perkembangan social anak. Sigmund Freud
sebagai Bapak Psikoanalisa memandang bermain sebagai fantasi atau lamunan.
melalui bermain seseorang dapat memproyeksikan harapan-harapan ataupun
konflik-konflik serta pengalaman yang tidak menyenangkan melalui objek bermain.
Pada dasarnya, bermain memiliki dua
pengertian yang harus dibedakan. Bermain menurut pengertian yang pertama dapat
bermakna sebagai sebuah aktifitas bermain yang murni mencari kesenangan tanpa
mencari “menang kalah” ( play).
Sedangkan yang kedua disebut sebagai aktifitas bermain yang dilakukan dalam
rangka mencari kesenangan dan kepuasan, namun ditandai dengan adanya pencarian
”menangkalah” (game). Peran (role) bisa diartikan sebagai cara
seseorang berperilaku dalam posisi dan situasi tertentu.
2.
Pengertian Bermain Peran.
Bermain peran disebut juga main
simbolis, pura-pura, make-beliave, fantasi,
imajinasi, atau main drama, sangat penting untuk perkembangan kognisi, social,
dan emosi anak usia 3-6 tahun. Bermain peran terdiri dari 2 bagian yaitu:
1)
Makro
Anak
berperan sesungguhnya dan menjadi seseorang atau sesuatu dengan menggunakan
alat tertentu. Misalnya ia berperan sebagai dokter maka ia mengenakan baju
putih dan memakai alat-alat dokter.
2)
Mikro
Anak memegang atau
menggerak-gerakkan benda-benda berukuran kecil untuk menyusun adegan, benda itu
diibaratkan sesuatu. Misalnya anak memegang pulpen lalu ia menganggap pulpen
tersebut pesawat.
Bermain peran termasuk salah satu
jenis bermain aktif, diartikan sebagai pemberian atribut tertentu terhadap
benda, situasi dan anak memerankan tokoh yang ia pilih. Apa yang ditampilkan
anak melalui bermain peran sesuai dengan tokoh atau objek yang sering ia lihat
dan ia menampilkannya seperti memang benar-benar real.
Kegiatan berrmain peran umumnya
disukai dan sering dilakukan anak usia 2 sampai 8 tahun, dapat bersifat
produktif dan kreatif dan bisa juga reproduktif (pengulangan dari situasi yang
diamati anak sehari-hari). Bersifat produktif disini maksudnya anak menciptakan
pengetahuan baru dan mampu memecahkan masalah yang ia dapatkan melalui kegiatan
bermain peran, kreatif maksudnya anak mampu menciptakan skenario baru tanpa
berpacu pada rencana bermain yang sudah ada, dan reproduktif yakni ia memainkan
Menurut tahapan perkembangan bermain
Jean Piaget yakni salah satunya symbolic atau make-believe play
yaitu terjadi pada usia 2-7 tahun yang ditandai dengan bermain khayal
atau pura-pura. Anak mulai banyak bertanya dalam kegiatan bermainnya,
mencobakan berbagai hal berkaitan dengan konsep angka, ruang, kuantitas dan
sebagainya.
C.
Perkembangan Kognitif, Bahasa dan
Sosem Anak Usia dini
Perkembangan merupakan proses
perubahan yang bersifat kuantitatif yang menyangkut aspek mental/psikologis.
Diantaranya perkembangan tersebut meliputi perkembangan kognitif, bahasa, social emosional yang terjadi pada
anak usia dini.
Perkembangan kognitif ialah
perkembangan yang terjadi pada individu berkaitan dengan pengetahuan yang ia
dapatkan. Menurut Jean Piaget, perkembangan kognitif seseorang diperoleh
melalui proses asimilasi dan akomodasi. Asimilasi adalah proses penggabungan
informasi baru yang ditemui dalam realitas dengan struktur kognisi seseorang.
Akomodasi adalah mengubah struktur kognisi seseorang untuk diselaraskan atau
meniru apa yang diamati dalam realitas. Atinya individu mendapatkan pengetahuan
baru secara aktif melalui apa yang ia lihat.
Vygotsy meyakini bahwa bermain
dapat meningkatkan kognisi seseorang dan menambah nilai sosial emosional anak.
Ini dapat kita lihat jika anak melakukan bermain peran maka mereka lebih
cenderung kepada bermain peran makro karena dilakukan dengan sesama teman
sebayanya atau disebut sosiodrama. Misalnya saat anak bermain peran sebagai
ibu-ibu yang pergi ke pasar untuk membeli bahan-bahan masak. Ada anak yang
bermain peran sebagai pembeli dan ada yang berperan sebagai penjual. Hal ini akan
menambah pengetahuan baru untuk anak, karena mereka yang sebelumnya belum tau
apa yang dilakukan oleh ibunya saat belanja di pasar maka melalui bermain peran
yang mereka lakukan bersama-sama anak yang tidak tau tadi menjadi tau karna
melihat tingkah laku temannya saat bermain peran. Selain itu melalui bermain
anak akan berkreativitas, mereka akan menciptakan skenario-skenario baru yang
tidak diduga-duga.
Perkembangan bahasa ialah
perkembangan yang terjadi pada individu berkaitan dengan kemampuan berbicara,
mendengarkan, dan menulis. Bahasa merupakan alat untuk seseorang dapat
berkomunikasi. Oleh karena itu sejak dini perlu diperhatikan perkembangan
bahasa anak agar kedepannya tidak ada masalah. Anak mengekspresikan dirinya
melalui bahasa yang bisa ia dapatkan melalui bermain peran. Khayalan anak
seringkali juga menggambarkan keinginan, perasaan, dan pandangan anak mengenai
duia sekelilingnya. Dalam kegiatan bermain ini, anak kerapkali mengubah
identitasnya, namanya, cara bicara dan berpakaiannya. Hal tersebut akan
menambah kosakata anak. Melalui bermain tersebut ia akan berbicara sesuai
dengan scenario ataupun tidak dan tentunya melatih ia untuk berekspresi.
Misalnya saat anak bermain peran memarahi bonekanya yang tidak mau makan.
Ataupun saat anak bermain sosiodrama
dengan temannya, temannya mengatakan kata yang belum pernah ia dengar nah
disitulah bertambah pembendaharaan kata anak.
Perkembangan social ialah proses
pemerolehan kemampuan untuk dapat berinteraksi deangan lingkungan dan diterima
dalam lingkungan social. Dengan semakin meningkatnya usia anak maka ia perlu untuk dipisah dari ibunya agar dapat mandiri dan bersosialisasi diluar
lingkungan rumahnya. Misalnya ketika ia berumur 1-2 tahun diajak bermain
cilukba maka ia akan bisa merasakan pengalaman ditinggal ibunya sehingga
semakin dia tumbuh besar akan terbiasa.
Dalam bermain peran, perkembangan
sosial anak akan meningkat melalui sosiodrama. Anak akan belajar memerankan
perilaku social sebagai individu yang berrada di masyarakat. Misalnya saat anak
bermain peran sebagai ibu-ibu dan ayah-ayah, guru, pembantu dan lain
sebagainya. Ia akan melakukan interaksi dengan teman sebagainya yang sama-sama
bermain peran sehingga ia tau bagaimana seseorang berperilaku dalam kelompok
sosialnya.
Perkembangan emosi ialah proses
yang terjadi pada individu untuk dapat mengendalikan perasaan dan membentuk
pribadinya. Dengan bermain seseorang dapat melampiaskan seluruh ketegangannya.
Menurut teori Sigmund Freud, bermain sebagai lamunan dimana seseorang dapat
memproyeksikan harapan-harapan dan konfliknya melalui objek bermain. Misalnya
saat saat anak sedang kesal dengan adiknya lalu ia bermain peran dengan
bonekanya dan menganggap boneka tersebut sebagai “adiknya” maka ia akan
meluapkan seluruh perasaannya dengan menyiksa boneka tersebut dengan begitu ia
akann merasa puas dan lega. Contoh lain misalnya saat anak melakukan kegiatan
bermain sosiodrama sebagai orang miskin dan orang kaya. Maka mereka akan
merasakan bagaimana rasanya jadi orang kaya dan hal tersebut akan melatih rasa
empati anak terhadap orang miskin setelah melakukan bermain peran.
D.
Peran
Guru dalam Kegiatan Bermain Peran.
Guru adalah suatu model dimana
sebagai tempat bagi anak untuk menirukan perilaku yang ia dapat dari gurunya.
Guru adalah pusat anak. Ialah yang menjadi pedoman anak dan dia yang mengatur
keberlangsungan pembelajaran. Kebanyakan guru masih menggunakan metode
pembelajaran yang hanya itu-itu saja tanpa memvariasikannya. Oleh karena itu
perlu bagi guru untuk mengubahnya menjadi suatu kegiatan yang bermakna misalya
dengann mempersiapkan bermain peran didalam kelas.
Guru mempersiapkan pelaksanaan
pembelajaran bermain peran, misalnya bermain peran seebagai orangorang yang ada
didalam gedung bank. Disana ada pegawai bank, ada polisi, ada custumor dan ada
satpam. Guru merancang ruangan sedemikian rupa dengan mempesiapkan meja,
kkursi, kertas, bolpoin dan stempel kertas. Tentukan pemerannya dan pandu anak
untuk melakukannya. Disini guru hanya sebagai pengamat dan evaluator tanpa
harus mengatur jalannya kegiatan. Hal ini bertujuan agar anak dapat berkespresi seseuai dengan
kehendaknya agar aspek perkembangannya meningkat.
Jika guru menerapkan metode bermain
peran seperti ini maka anak akan mudah belajar. Dalam rancangan ilustrasi
diatas bisa kita mengambil penjabaran bahwa dengan bermain peran akan menambah
kognisi anak, ini terlihat bahwa anak akan tahu bagaimana berperilaku didalam
sebuah bank meskipun ia belum pernah datang kesana. Perkembangan bahasanya pun
akan terasah, ketika ia yang berrperan sebagai pegawai bank menanyakan apa yang
bisa dibantu kepada pelanggannya lalu mereka melakukan percakapannya ataupun
kemampuan menulisnya ketika menulis nominal yang akan ditabung ke bank.
Begitupun dengan perkembangan social emosional anak, ia akan tau cara
bersosialisasi didalam bank dan cara melayani masyarakat jikalau menjadi
polisi.
PENUTUP
Kesimpulan
Bermain peran dapat mempengaruhi
perkembangan kognitif, bahasa, dan sosem anak usia dini karena sejatinya
bermain adalah kebutuhan mutlak anakdimana disanalah tempat anak untuk
memproyeksikan kemampuannya dan mengekspresikan jiwanya. Bermain member
kesenangan bagi mereka sehingga mereka akan sangat mudah belajar melalui
kegiatan bermain dan tentu saja ini akan mempengaruhi disegala aspek
perkembangannya tentunya dengan peran guru yang merancang pembelajaran berbasis
bermain peran tersebut.
DAFTAR
PUSTAKA
Nasriah. 2002. Konsep
Dasar Paud. Medan: UNIMED PRESS
Sugianto, Mayke.
1995. Bermain, Mainan, dan Permainan.
Jakarta: Departemen Pendidikan
dan Kebudayaan
Mutiah, Diana. 2010. Psikologi Bermain Anak Usia Dini. Jakarta: K E N C A N A
Tohanan,
Eli. Sahat. 2014. Pengaruh Metode Bermain Peran dan Konsep Diri terhadap
Kemampuan Berbicara Anak Usia Dini. Jurnal Teknologi Pendidikan.. Vol.7 No.1.
http://digilib.unimed.ac.id/pengaruh-metode-bermain-peran-dan-konsep-diri-terhadap-kemampuan-berbicara-anak-usia-dini-di-kelompok-bermain-kota-medan-26269.html.
22 April 2015
Tidak ada komentar:
Posting Komentar