Rabu, 18 Mei 2016

Pena Wiwin ~ Antologi Cerpen *Kisah Sejati



You are My Destiny
Sesosok pria datang menghampiriku, kemudian ia menatapku tajam tanpa kedipan sekalipun selama 10 detik. “Maaf, kamu siapa?” ucapku menatap heran melihat wajah dan senyumannya itu. Alih-alih menjawab, dia justru semakin menatapku dan perlahan-lahan wajahnya mengarah kewajahku, tanpa sungkan ku ayunkan tanganku menampar wajahnya. Plak!!..  “Aduh.. sakit sekali, garang sangat euy.” Pria itu beralih dan memegang pipinya yang kesakitan karna ku tampar. “Emang enak? Sopan dong, kenal juga enggak malah beraninya ngeliatin wajahku sampai segitunya. Atau jangan-jangan kamu punya maksud jahat ya?” mataku menatapnya tajam dan sadis sehingga dia pun tertunduk lesu. “A.. ku tidak punya maksud apa-apa kok, hanya saja…” jawabnya dengan gemetaran. “Hanya apa ha? Jawab ayo jawab!” desakku ke dia. “Mmm… hanya saja? Ah, tidak lah aku takut sebab kamu garang banget.” Pria itu semakin membuatku kesal. “Jadi seperti itu? Baiklah aku akan teriakin kamu penculik”  ujarku dengan ancaman agar ia mau menjawab pertanyaanku. “Eh iya iya, nyebelin banget sih kamu. Aku ngeliatin mata kamu dari dekat itu karena ada kotoran dimata kamu, perempuan kok jorok banget sih, haha” sambil tertawa terbahak-bahak dia menjawab pertanyaanku dan aku tertunduk malu kemudian membersihkan kotoran dimataku itu. “Yah, dia malu.. uda deh aku mau pergi dulu gak level dekat-dekat sama cewek jorok, haha” dia pergi meninggalkan dan masih tetap tertawa mengejekku. “Yee pergi aja sana, siapa juga yang mau dekat-dekat kamu. Huss..”
Hari ini benar-benar hari yang melelahkan dan membosankan. Andai aja aku tidak berjumpa dengan pria gila itu mungkin aku tidak semalu ini sekarang. Aku kan model cantik, terkenal, elegan, fashionable dan super-super cetar membahana kenapa bisa dibuat malu sama pria gila satu itu  karena kotoran mata, bayangkan! Oh my god, bisa-bisa dia nanti menceritakan semua ini ke media lalu hancur sudah imejku sebagai super model. Ups, tapi tunggu dulu mungkin dia tidak mengenaliku  sebagai model. Eh tapi aku kan model terkenal, semua orang mengenalku. Aku harus cari cara untuk mencegah itu dan akan ku tarik hidung panjangnya itu. Liat saja kamu ya pria gila, hahaha. Malam itu aku benar-benar setres berat memikirnya karena aku benar-benar harus menjaga reputasiku sebagai model. Daripada aku pusing, lebih baik aku tidur.
Paginya aku kesiangan, “Mama mama, Ratu terlambat. Hari ini ada jadwal pemotretan pagi, bagaimana ini ma? Ratu pakai baju apa? Terus asesorisnya ma? Sepatu ma? Aduh pusing Ratu pusing..” aku terbangun dari tidur panjangku lalu bergegas mondar-mandir tak menentu karena begitu paniknya. “Kamu ya heboh saja bisanya, tuh sudah mama siapkan semua karena mama kasihan sama kamu semalaman wajahnya keriput” jawab mama dengan santai dan meledek. “Alhamdlillah mama cantik, ih kok keriput sih ma ini nih kencang tau” kupeluk mama karena aku bahagia punya mama yang super-super mengerti mengatasi kehebohan anaknya ini. “Lagian kenapa sih kamu cemberut aja dari kemarin pulang dari Bandung, ada masalah ya sayang?” tanya mama penasaran akhirnya ku ceritakan kejadian kemarin dengan panjang lebar kepada mama. “Apa sayang? Hahaha.. aduh kamu lucu banget tau. Ada ya cowok yang sampai merhatikan kotoran mata kamu, aduh lucu banget.” Mama malah tertawa terbahak-bahak mendengar ceritaku, aku mengganti mimik wajahku yang semula senang kini menjadi  cemberut. “Anak mama cemberut, hahaha.. sudahlah ambil positifnya saja sayang, mama rasa dia mengenalimu sehingga dia memperhatikan bagian terdetail yang anak mama miliki. Jangan dipikirkanlah hal kecil seperti itu, wajar kan namanya manusia juga punya kotoran tandanya system metabolisme tubuhnya lancar.  Pelajaran yang patut dipetik itu kamu rajin-rajin bercermin.” Omongan mama memang benar, tapi tetap saja aku malu walaupun aku sudah menerima alasannya.
Seperti biasa aku menjalani hari-hariku dilokasi pemotretan, untungnya hari ini hanya beberapa baju yang dikenakan jadi tidak ribet. “Ratu, om ingin mengajak kamu untuk lunch. Apakah kamu mau?” ujar pak Reza kepadaku. “Ratu sudah ada janji dengan teman Ratu pak, maaf ya” jawabku menolak ajakan pak Reza dengan suara halus. Pak reza merupakan produser hebat yang telah lama melintang dindustri photography, beliau seorang duda beranak satu dan masih berumur 40’an tahun. Orang-orang bilang beliau ini ‘duren’ (duda keren), banyak yang memuji dia tak terkecuali model-model muda nan cantik itu. Gosip yang beredar sih katanya beliau menyukaiku, aku juga merasakan hal itu sebab  beliau sering memberi perhatian lebih kepadaku.
Siapa yang tau hati seseorang, tak selamanya yang indah bagi kita juga indah bagi mereka. Mungkin itulah yang menggambarkan perasaanku memandang pak Reza. Orang-orang selalu bilang kalau  aku cocok dengan pak Reza karena sama-sama menarik bagi mereka, namun jujur saja aku tidak suka pria yang tua tetapi pria brondong alias adik kelasku.
“Sayang kamu sudah selesai?” tanya Firly dari kejauhan.
“Iya sayang sebentar lagi” jawabku dengan lontaran senyum.
Iya benar, Firly nama pacarku. Pria yang tengah menjalani pendidikan di Australia itulah yang mampu menaklukan hatiku dengan perhatian dan wajah imutnya itu. Terpaut usia 3 tahun lebih muda dariku tidak menjadi halangan bagi kami untuk membina hubungan yang indah ini. Walaupun harus LDR antara Australia dan Indonesia.
Pertemuan itu berawal sangat indah dan diwaktu yang sangat tepat. Langit memang tak mendengar, bumi juga tak mungkin untuk melihat, namun pria sederhana berwajah korea itulah yang hanya mampu mendengar dan melihat apa yang tlah aku rasakan. Saat itu aku memang terkenal dengan sebutan ‘RATU  GALAU’. Terbayang tidak, namaku memang sudah Ratu lalu hari-hariku kuhabiskan untuk galau dan sedih-sedih tidak jelas. Benar-benar memalukan, ternyata waktuku sudah banyak terbuang sia-sia untuk galau.
Jadi, kisah cinta antara aku dan Firly berawal dari sebutan ‘RATU GALAU’. Pagi itu tiba-tiba saja terletak bunga mawar putih kesukaanku dan ada burung merpati putih membawa sepucuk surat didadanya.
“Maa… maa.. lihat nih ada  bunga mawar!” teriakku.
Hmmm (ku cium aroma semerbak mawar  putih indah itu)
“Astaga sayang.. romantisnya.. siapa yang memberikannya?” ibu datang dengan terkejut sembari senyum-senyum kepo. Aku menjawabnya dengan senyuman kemudian bergegas ke kamar.
Senang bukan kepalang, ternyata ada pria yang menaruh perhatian lebih kepadaku disaat aku sedang galau-galau karena pria yang jauh tidak lebih baik dari pria pengirim mawar ini.
Teruntukmu by **
Bagaimana aku bisa lupa
Bagaimana aku bisa beranjak
Jika senyuman itu tak kunjung enyah dipikiran dan imajinasiku
Tak perlu sekejap
Tak perlu sekilas
Aku justru sangat bersyukur jika itu selamanya
Selamanya ingin melihat senyuman itu
            Begitulah kata-kata yang tertulis disecarik kertas itu, senyumanku tak dapat lagi ku hentikan dan bertindakk kegirangan.
            Tilulit.. “Halo, ini siapa?” ku angkat telpon dari kontak bertuliskan ‘Firly si adik’
            “Aku boleh ngomong sesuatu nggak kak? Tanya Firly.
            “Mau ngomong apa? Nggak apa-apa kok, bilang aja” jawabku
            Melalui sambungan telepon itulah Firly mengaku bahwa ia yang mengirim bunga mawar itu dan menembbakku. Memang tidak menggunakan kata-kata yang romantis dan secara langsung namun bagiku tak masalah justru aku tidak berpikir-pikir lagi untuk menerima dia karna aku sudah terlanjur klepek-klepek dengan keluguan dan keromantisannya.
            Hubungan kami telah menginjak hampir satu tahun kurang 3 hari. Aku telah menyiapkan kejutan special yang sangat romantic untuknya. Musik dan dunia literasi adalah bagian dari hobi kami disamping profesii yang tengah sama-sama kami jalani. Sebuah lagu telah ku ciptakan untuk kekasihku yang tiada bandingannya itu, tidak pula lupa sebuah buku yang telah ku tulis menggambarkan cerita cinta kami.
            “Sayang, ayo dong sudah pada ngumpul semua nih!” ajak Firly
            “Mama sama papa kamu juga datang?”
            “Tidak sayang, hanya kakakku dan abang ipar saja”
Firly berniat untuk mengajakku bertemu dengan kakaknya, karena katanya mereka sangat ingin melihat aku yang sebenarnya seperti apa. Biasanya mereka hanya melihatku silih berganti menjadi model cover majalah. Deg-deg’an bukan kepalang, aku harus berkata apa nanti kepada mereka. Sesekali aku menoleh ke wajah Firly yang sedang menyetir disampingku.
“Sayang, kamu kenapa asem gitu wajahnya? Senyum dong!”
“Aku belum bisa senyum sebelum kakak kamu bisa senyum denganku”
“Kamu percaya saja ya, yang terbaik pasti selalu ada dihubungan kita”
Mendengar jawaban Firly membuat hatiku sedikit tenang sehingga timbul kembali kepercayaan diriku sebagai model. Setelah sampai di kafe tempat yang disepakati, tak sengaja mataku melihat pria aneh itu lagi yang waktu itu melihat kotoran dimataku. Aku pura-pura tidak melihatnya dan menghindar dibalik bahu Firly. Untung saja pria aneh itupun tidak melihatku.
Di meja yang telah kami pesan sudah ada kakak dan abang ipar Firly, dari kejauhan kakaknya begitu anggun namun terlihat  garang. “Hai Ratu” sapa kakak Firly. “Hai kak” ku balas sapaannya sembari bersalaman dan cipika-cipiki. “Thank’s ya sudah bersedia datang..” obrolan kami pun berlanjut hingga saling mengisi satu sama lain tanpa ada rasa canggung sampai pertemuan itu berakhir. Benar juga menurut Firly, kakaknya baik dan welcome dengan siapa saja.Malam pertemuan itu sangat berkesan bagiku karna itu merupakan langkah awal untuk mendekatkan diri kepada keluarga Firly. Mereka juga sudah mengetahui berapa jarak antara usiaku dengan usia Firly.
Keesokan harinya aku mendapat sms dari Firly yang mengatakan ia mendadak harus balik ke Australia karena ada urusan yang segera diselesaikannya. Aku manggut dan mempersilahkan, toh itu semua demi kebaikan Firly dan pendidikannya.
“Hai.. ketemu lagi deh kita” ujar pria berlesung pipi tiiba-tiba mendekati aku.
“Astaga.. kamu lagi kamu lagi, selalu buat aku terkejut” sambarku
Ternyata pria itu adalah pria yang melihat kotoran dimataku. Kami pun mengobrol panjang dengan saling mengenal satu sama lain. Pria itu ternyata manis juga, apalagi  memiliki lesung pipi, hampir  tergoda imanku. Namanya Raja, umurnya sama sepertiku dan dia seorang arsitek. Pertemuan kami yang baik-baik ini meluruskan presepsi diantara kami sehingga obrolan kami pun nyambung bahkan keasyikan ngobrol.
Semenjak itu dia sering menelpon, whatsapp bahkan mengantar jemput aku ke lokasi pemotretan. Aku juga tidak tau maksudnya bisa sebaik itu denganku. Teman-teman yang dekat denganku bingung mengapa aku dekat dengan Raja akhir-akhir ini, mereka juga bertanya-tanya apa aku masih lanjut atau  tidak dengan Firly. Aku meluruskannya bahwa hubunganku baik-baik saja dengan Firly, antara aku dan Raja hanya sebatas teman yang menemani kesepianku saat aku LDR dengan Firly. “Terus, mengapa kamu tidak mau dengan pak Reza? Padahal dia kan selalu ada untuk kamu” ucap Rere. “Sudah aku katakana, pak Reza sudah ku anggap seperti abangku sendiri tidak ada perasaan lebih dan aku segan jika hharus berjalan dengan pak Reza ntar dikira prestasiku ini karna pak  Reza bukan murni dariku” jawabku. Rere pun terdiam kemudian tersenyum mendengar jawabanku. Entah mengapa teman-teman kerja disatu management itu mendukungku untuk menikah dengan pak Reza bukan lagi pacaran tetapi menikah. Astaga.. aku belum kepikiran seperti itu.
Sudah seminggu Firly tak berkabar, tiba-tiba datanglah pak pos mengantarkan surat. Disampul luar amplop tertuliskan dari Australia, ku pikir ini  pasti dari Firly. Tapi mengapa ia mengirim surat lewat pos kenapa tidak langsung menelepon saja.
Maaf Ratu..
Pesan ini ku tulis sehari sebelum hari ha pernikahan kami
Sekali lagi maaf Ratu
Aku merebut Firly darimu
Aku sangat mencintainya
Papa Firly sedang sekarat dan ia menginginkan pernikahan kami
Firly memang terpaksa menikahiku
Ia tidak sanggup untuk mengabarkanmu
Sehingga aku berinisiatif member kabar padamu
Aku tak mau kamu semakin terluka Ratu
Maafkan aku..
Maafkan kami..
Nayla
Ragaku tak dapat lagi berdiri kokoh, jiwaku mendadak layu tanpa adanya sandaran. Cinta, sayang, rindu, kepercayaan yang selama ini ku bangun yang selama ini ku pertahankan semuanya hancur sia-sia tanpa sisa sepercikpun kebahagiaan. Sungguh benar-benar aku tlah hancur berkeping-keping. Nayla adalah sahabat kecilku, ia benar-benar penghianat. Firly sayangku.. aku benar-benar tidak percaya kau telah menjadi miliknya. Kata sayang, pelukan, ciuman dikening yang sering kau daratkan di dahiku ini ternyata semuanya pallsu, semuanya sia-sia.
Pagi itu menjadi hari yang hancur untukku sehingga aku tak sadarkan diri dikamar, saat sudah terbangun aku telah berada dirumah sakit. Mama disampingku menangis, teman-teman managementku jugattak terkecuali pak Reza dan satu sosok juga turut hadir yaitu Raja. “Sayang kamu harus melupakan Firly ya, dari awal mama juga sudah yakin bahwa dia itu tidak baik untuk kamu sayang” ujar mama sambil merintih sedih melihat putrinya terbaring lemah karna shock mendengar kabar Firly. “Iya ma.. Ratu tak apa-apa sebentar lagi juga akan kembali normal” jawabku.
Selama aku dirumah sakit, Raja dan pak Reza bergantian menjengukku dan memberi perhatian lebih kepadaku. Jika pak Reza aku sudah mengerti bahwa ia menyukaiku, tetapi jika Raja aku tidak tau apa maksudnya member perhatian kepadaku. Namun sudahlah intinya aku bahagia memiliki orang-orang yang sayang denganku sehingga membuatku segera melupakan Firly.
Hari-hari berganti akhirnya aku diperbolehkan untuk pulang, karna memang perasaanku saat itu sudah pulih kembali dan aku harus memulai hidup baru. Pak Reza yang menjemputku dirumah sakit karena saat itu mama sedang ada pekerjaan diluar kota. Awalnya aku sedikit canggung, namun pak Reza sangat terbuka dan memiliki jiwa muda juga ternyata.
Aku merasa terlahir kembali karena orang-oorang disekitarku yang begitu menyayangiku. Pak Reza terus menerus memberi perhatian kepadaku dan mengajakku dinner dan lunch.
“Ratu, kamu mau pesan apa?” tanya pak Reza
“Ratu pesan burger aja deh..” jawabkku
Setelah memesan makanan kami pun bercerita dan bercanda tawa. Mungkin aku cukup nyaman dengan pak Reza karena ternyata walaupun umurnya jauh lebih tua dari aku namun obrolan kami asyik dan aku bahagia. Rasa nyamanku kepada pak Reza masih lebih besar rasa nyamanku kepada Raja. Kalau dibilang mungkin akulah satu-satunya perempuan yang cepat move on dikala ditinggal menikah oleh pacar sendiri justru sekarang sedang bingung haruus memilih dua lelaki yang sama-sama nyaman untuk didekati.
Ditengah obrolan kami tersebut datanglah Raja dan Rere. Aku sempat terkejut kenapa mereka bisa berjalan bersama namun mungkin merea hanya berrteman dan tidak sengaja bertemu.
“Loh, kalian juga disini?” tanya Rere
“Iya re, kalian memang mau datang kesini atau ada urusan?”
“Oh tidak, kami mau dinner sama seperti kalian hehe”
Dinner?” perjelasku nada shock
“Iya kami kan sudah resmi menjadi sepasang kekasih” jawab Rere
“Wah.. selamat ya Raja selamat” ucap pak Reza namun Raja hanya tersenyum
“Bagus dong jadi kamu tidak jomblo lagi re” sambarku sinis.
“Sayang ayo kita duduk disana, kami duluan ya pak, Ratu..” ajak Raja meninggalkan kami.
Aku benar-benar tidak percaya, ternyata selama ini aku hanya kepedean ddan menganggap Raja menyukaiku, ternyata tidak sama sekali. Sudahlah.. masih ada pak Reza yang telah lebih dulu  memberi perhatian lebih kepadaku dan mungkin itu tulus.
Esok harinya aku terbangun dari tidurku karna mendengar suara-suara rebana dan alat music Betawi seperti mengaraki calon pengantin saja. Mama menyerukan namaku dari singgah sana namun suara teriakan pak Reza dari bawah lebih jellas terdengar ditelingaku lantas ku buka tirai jendela kamarku dan ternyata pak Reza membawa rombongan sembari mengatakan ‘Will you marry me  Ratu hatiku?’ aku benar-benar terkejut dan langsung bergegas menuju halaman rumah hanya dengan mengenakan baju tidur. “Sayang.. kamu dilamar pak Reza, sumpah mama senang sekali tau. Kamu harus terima dia ya?” ucap mama kepadaku dan aku hanya tersenyum dan langsung keluar rumah.
Sosok itu menghampiriku perlahan-lahan dengan tatapan yang tulus dimatanya. Aku terenyuh dan tak melepaskan senyumanku.
“Will you marry me?” ucap pak Reza
“Yes” jawabku tersenyum..
Serentak seluruh rombongan diantaranya temman semenagement dan orang tua Reza pun bersorak gembira mendengar jawabanku. Bagiku ini sunggu jauh dari kata romantis, dilamar calon suami dengan pakaian tidur. Namun begitulah cinta, tidak memandang keadaan dan aku bahagia telah memiliki pak Reza yang mampu membimbingku. Kamulah Takdirku.
14 februari 2016 Windi Nurika
kontributor antologi cerpen WA Publisher

Tidak ada komentar:

Posting Komentar