You
are My Destiny
Sesosok pria datang menghampiriku, kemudian ia
menatapku tajam tanpa kedipan sekalipun selama 10 detik. “Maaf, kamu siapa?”
ucapku menatap heran melihat wajah dan senyumannya itu. Alih-alih menjawab, dia
justru semakin menatapku dan perlahan-lahan wajahnya mengarah kewajahku, tanpa
sungkan ku ayunkan tanganku menampar wajahnya. Plak!!.. “Aduh.. sakit
sekali, garang sangat euy.” Pria itu beralih dan memegang pipinya yang kesakitan
karna ku tampar. “Emang enak? Sopan dong, kenal juga enggak malah beraninya
ngeliatin wajahku sampai segitunya. Atau jangan-jangan kamu punya maksud jahat
ya?” mataku menatapnya tajam dan sadis sehingga dia pun tertunduk lesu. “A.. ku
tidak punya maksud apa-apa kok, hanya saja…” jawabnya dengan gemetaran. “Hanya
apa ha? Jawab ayo jawab!” desakku ke dia.
“Mmm… hanya saja? Ah, tidak lah aku takut sebab kamu garang banget.” Pria itu
semakin membuatku kesal. “Jadi seperti itu? Baiklah aku akan teriakin kamu
penculik” ujarku dengan ancaman agar ia
mau menjawab pertanyaanku. “Eh iya iya, nyebelin banget sih kamu. Aku ngeliatin
mata kamu dari dekat itu karena ada kotoran dimata kamu, perempuan kok jorok
banget sih, haha” sambil tertawa terbahak-bahak dia menjawab pertanyaanku dan
aku tertunduk malu kemudian membersihkan kotoran dimataku itu. “Yah, dia malu..
uda deh aku mau pergi dulu gak level dekat-dekat sama cewek jorok, haha” dia
pergi meninggalkan dan masih tetap tertawa mengejekku. “Yee pergi aja sana,
siapa juga yang mau dekat-dekat kamu. Huss..”
Hari ini benar-benar hari yang melelahkan dan
membosankan. Andai aja aku tidak berjumpa dengan pria gila itu mungkin aku
tidak semalu ini sekarang. Aku kan model cantik, terkenal, elegan, fashionable dan super-super cetar
membahana kenapa bisa dibuat malu sama pria gila satu itu karena kotoran mata, bayangkan! Oh my god, bisa-bisa dia nanti
menceritakan semua ini ke media lalu hancur sudah imejku sebagai super model. Ups, tapi tunggu dulu mungkin dia tidak
mengenaliku sebagai model. Eh tapi aku
kan model terkenal, semua orang mengenalku. Aku harus cari cara untuk mencegah
itu dan akan ku tarik hidung panjangnya itu. Liat saja kamu ya pria gila,
hahaha. Malam itu aku benar-benar setres berat memikirnya karena aku
benar-benar harus menjaga reputasiku sebagai model. Daripada aku pusing, lebih
baik aku tidur.
Paginya aku kesiangan, “Mama mama, Ratu terlambat.
Hari ini ada jadwal pemotretan pagi, bagaimana ini ma? Ratu pakai baju apa?
Terus asesorisnya ma? Sepatu ma? Aduh pusing Ratu pusing..” aku terbangun dari
tidur panjangku lalu bergegas mondar-mandir tak menentu karena begitu paniknya.
“Kamu ya heboh saja bisanya, tuh sudah mama siapkan semua karena mama kasihan
sama kamu semalaman wajahnya keriput” jawab mama dengan santai dan meledek.
“Alhamdlillah mama cantik, ih kok keriput sih ma ini nih kencang tau” kupeluk
mama karena aku bahagia punya mama yang super-super mengerti mengatasi
kehebohan anaknya ini. “Lagian kenapa sih kamu cemberut aja dari kemarin pulang
dari Bandung, ada masalah ya sayang?” tanya mama penasaran akhirnya ku
ceritakan kejadian kemarin dengan panjang lebar kepada mama. “Apa sayang?
Hahaha.. aduh kamu lucu banget tau. Ada ya cowok yang sampai merhatikan kotoran
mata kamu, aduh lucu banget.” Mama malah tertawa terbahak-bahak mendengar
ceritaku, aku mengganti mimik wajahku yang semula senang kini menjadi cemberut. “Anak mama cemberut, hahaha..
sudahlah ambil positifnya saja sayang, mama rasa dia mengenalimu sehingga dia
memperhatikan bagian terdetail yang anak mama miliki. Jangan dipikirkanlah hal
kecil seperti itu, wajar kan namanya manusia juga punya kotoran tandanya system metabolisme tubuhnya lancar. Pelajaran yang patut dipetik itu kamu
rajin-rajin bercermin.” Omongan mama memang benar, tapi tetap saja aku malu
walaupun aku sudah menerima alasannya.
Seperti biasa aku menjalani hari-hariku dilokasi
pemotretan, untungnya hari ini hanya beberapa baju yang dikenakan jadi tidak
ribet. “Ratu, om ingin mengajak kamu untuk lunch.
Apakah kamu mau?” ujar pak Reza kepadaku. “Ratu sudah ada janji dengan teman Ratu
pak, maaf ya” jawabku menolak ajakan pak Reza dengan suara halus. Pak reza
merupakan produser hebat yang telah lama melintang dindustri photography, beliau seorang duda beranak
satu dan masih berumur 40’an tahun. Orang-orang bilang beliau ini ‘duren’ (duda
keren), banyak yang memuji dia tak terkecuali model-model muda nan cantik itu.
Gosip yang beredar sih katanya beliau menyukaiku, aku juga merasakan hal itu
sebab beliau sering memberi perhatian
lebih kepadaku.
Siapa yang tau hati seseorang, tak selamanya yang
indah bagi kita juga indah bagi mereka. Mungkin itulah yang menggambarkan
perasaanku memandang pak Reza. Orang-orang selalu bilang kalau aku cocok dengan pak Reza karena sama-sama
menarik bagi mereka, namun jujur saja aku tidak suka pria yang tua tetapi pria
brondong alias adik kelasku.
“Sayang kamu sudah selesai?” tanya Firly dari
kejauhan.
“Iya sayang sebentar lagi” jawabku dengan lontaran
senyum.
Iya benar, Firly nama pacarku. Pria yang tengah
menjalani pendidikan di Australia itulah yang mampu menaklukan hatiku dengan
perhatian dan wajah imutnya itu. Terpaut usia 3 tahun lebih muda dariku tidak
menjadi halangan bagi kami untuk membina hubungan yang indah ini. Walaupun
harus LDR antara Australia dan Indonesia.
Pertemuan itu berawal sangat indah dan diwaktu yang
sangat tepat. Langit memang tak mendengar, bumi juga tak mungkin untuk melihat,
namun pria sederhana berwajah korea itulah yang hanya mampu mendengar dan
melihat apa yang tlah aku rasakan. Saat itu aku memang terkenal dengan sebutan
‘RATU GALAU’. Terbayang tidak, namaku
memang sudah Ratu lalu hari-hariku kuhabiskan untuk galau dan sedih-sedih tidak
jelas. Benar-benar memalukan, ternyata waktuku sudah banyak terbuang sia-sia
untuk galau.
Jadi, kisah cinta antara aku dan Firly berawal dari
sebutan ‘RATU GALAU’. Pagi itu tiba-tiba saja terletak bunga mawar putih
kesukaanku dan ada burung merpati putih membawa sepucuk surat didadanya.
“Maa… maa.. lihat nih ada bunga mawar!” teriakku.
Hmmm (ku cium aroma semerbak mawar putih indah itu)
“Astaga sayang.. romantisnya.. siapa yang
memberikannya?” ibu datang dengan terkejut sembari senyum-senyum kepo. Aku
menjawabnya dengan senyuman kemudian bergegas ke kamar.
Senang bukan kepalang, ternyata ada pria yang
menaruh perhatian lebih kepadaku disaat aku sedang galau-galau karena pria yang
jauh tidak lebih baik dari pria pengirim mawar ini.
Teruntukmu by **
Bagaimana aku bisa lupa
Bagaimana aku bisa beranjak
Jika senyuman itu tak kunjung enyah
dipikiran dan imajinasiku
Tak perlu sekejap
Tak perlu sekilas
Aku justru sangat bersyukur jika itu
selamanya
Selamanya ingin melihat senyuman itu
Begitulah kata-kata yang tertulis
disecarik kertas itu, senyumanku tak dapat lagi ku hentikan dan bertindakk
kegirangan.
Tilulit..
“Halo, ini siapa?” ku angkat telpon dari kontak bertuliskan ‘Firly si adik’
“Aku boleh ngomong sesuatu nggak
kak? Tanya Firly.
“Mau ngomong apa? Nggak apa-apa kok,
bilang aja” jawabku
Melalui sambungan telepon itulah
Firly mengaku bahwa ia yang mengirim bunga mawar itu dan menembbakku. Memang
tidak menggunakan kata-kata yang romantis dan secara langsung namun bagiku tak
masalah justru aku tidak berpikir-pikir lagi untuk menerima dia karna aku sudah
terlanjur klepek-klepek dengan keluguan dan keromantisannya.
Hubungan kami telah menginjak hampir
satu tahun kurang 3 hari. Aku telah menyiapkan kejutan special yang sangat
romantic untuknya. Musik dan dunia literasi adalah bagian dari hobi kami
disamping profesii yang tengah sama-sama kami jalani. Sebuah lagu telah ku
ciptakan untuk kekasihku yang tiada bandingannya itu, tidak pula lupa sebuah
buku yang telah ku tulis menggambarkan cerita cinta kami.
“Sayang, ayo dong sudah pada ngumpul
semua nih!” ajak Firly
“Mama sama papa kamu juga datang?”
“Tidak sayang, hanya kakakku dan abang
ipar saja”
Firly berniat untuk mengajakku bertemu dengan
kakaknya, karena katanya mereka sangat ingin melihat aku yang sebenarnya
seperti apa. Biasanya mereka hanya melihatku silih berganti menjadi model cover
majalah. Deg-deg’an bukan kepalang, aku harus berkata apa nanti kepada mereka.
Sesekali aku menoleh ke wajah Firly yang sedang menyetir disampingku.
“Sayang, kamu kenapa asem gitu wajahnya? Senyum
dong!”
“Aku belum bisa senyum sebelum kakak kamu bisa
senyum denganku”
“Kamu percaya saja ya, yang terbaik pasti selalu ada
dihubungan kita”
Mendengar jawaban Firly membuat hatiku sedikit
tenang sehingga timbul kembali kepercayaan diriku sebagai model. Setelah sampai
di kafe tempat yang disepakati, tak sengaja mataku melihat pria aneh itu lagi
yang waktu itu melihat kotoran dimataku. Aku pura-pura tidak melihatnya dan
menghindar dibalik bahu Firly. Untung saja pria aneh itupun tidak melihatku.
Di meja yang telah kami pesan sudah ada kakak dan
abang ipar Firly, dari kejauhan kakaknya begitu anggun namun terlihat garang. “Hai Ratu” sapa kakak Firly. “Hai
kak” ku balas sapaannya sembari bersalaman dan cipika-cipiki. “Thank’s ya sudah bersedia datang..”
obrolan kami pun berlanjut hingga saling mengisi satu sama lain tanpa ada rasa
canggung sampai pertemuan itu berakhir. Benar juga menurut Firly, kakaknya baik
dan welcome dengan siapa saja.Malam
pertemuan itu sangat berkesan bagiku karna itu merupakan langkah awal untuk
mendekatkan diri kepada keluarga Firly. Mereka juga sudah mengetahui berapa
jarak antara usiaku dengan usia Firly.
Keesokan harinya aku mendapat sms dari Firly yang
mengatakan ia mendadak harus balik ke Australia karena ada urusan yang segera
diselesaikannya. Aku manggut dan mempersilahkan, toh itu semua demi kebaikan
Firly dan pendidikannya.
“Hai.. ketemu lagi deh kita” ujar pria berlesung
pipi tiiba-tiba mendekati aku.
“Astaga.. kamu lagi kamu lagi, selalu buat aku
terkejut” sambarku
Ternyata pria itu adalah pria yang melihat kotoran
dimataku. Kami pun mengobrol panjang dengan saling mengenal satu sama lain.
Pria itu ternyata manis juga, apalagi
memiliki lesung pipi, hampir
tergoda imanku. Namanya Raja, umurnya sama sepertiku dan dia seorang
arsitek. Pertemuan kami yang baik-baik ini meluruskan presepsi diantara kami sehingga
obrolan kami pun nyambung bahkan keasyikan ngobrol.
Semenjak itu dia sering menelpon, whatsapp bahkan
mengantar jemput aku ke lokasi pemotretan. Aku juga tidak tau maksudnya bisa
sebaik itu denganku. Teman-teman yang dekat denganku bingung mengapa aku dekat
dengan Raja akhir-akhir ini, mereka juga bertanya-tanya apa aku masih lanjut
atau tidak dengan Firly. Aku
meluruskannya bahwa hubunganku baik-baik saja dengan Firly, antara aku dan Raja
hanya sebatas teman yang menemani kesepianku saat aku LDR dengan Firly. “Terus,
mengapa kamu tidak mau dengan pak Reza? Padahal dia kan selalu ada untuk kamu”
ucap Rere. “Sudah aku katakana, pak Reza sudah ku anggap seperti abangku
sendiri tidak ada perasaan lebih dan aku segan jika hharus berjalan dengan pak
Reza ntar dikira prestasiku ini karna pak
Reza bukan murni dariku” jawabku. Rere pun terdiam kemudian tersenyum
mendengar jawabanku. Entah mengapa teman-teman kerja disatu management itu
mendukungku untuk menikah dengan pak Reza bukan lagi pacaran tetapi menikah.
Astaga.. aku belum kepikiran seperti itu.
Sudah seminggu Firly tak berkabar, tiba-tiba
datanglah pak pos mengantarkan surat. Disampul luar amplop tertuliskan dari
Australia, ku pikir ini pasti dari
Firly. Tapi mengapa ia mengirim surat lewat pos kenapa tidak langsung menelepon
saja.
Maaf Ratu..
Pesan ini ku tulis sehari sebelum
hari ha pernikahan kami
Sekali lagi maaf Ratu
Aku merebut Firly darimu
Aku sangat mencintainya
Papa Firly sedang sekarat dan ia
menginginkan pernikahan kami
Firly memang terpaksa menikahiku
Ia tidak sanggup untuk
mengabarkanmu
Sehingga aku berinisiatif member
kabar padamu
Aku tak mau kamu semakin terluka
Ratu
Maafkan aku..
Maafkan kami..
Nayla
Ragaku tak dapat lagi berdiri kokoh, jiwaku mendadak
layu tanpa adanya sandaran. Cinta, sayang, rindu, kepercayaan yang selama ini
ku bangun yang selama ini ku pertahankan semuanya hancur sia-sia tanpa sisa
sepercikpun kebahagiaan. Sungguh benar-benar aku tlah hancur berkeping-keping.
Nayla adalah sahabat kecilku, ia benar-benar penghianat. Firly sayangku.. aku
benar-benar tidak percaya kau telah menjadi miliknya. Kata sayang, pelukan,
ciuman dikening yang sering kau daratkan di dahiku ini ternyata semuanya
pallsu, semuanya sia-sia.
Pagi itu menjadi hari yang hancur untukku sehingga
aku tak sadarkan diri dikamar, saat sudah terbangun aku telah berada dirumah
sakit. Mama disampingku menangis, teman-teman managementku jugattak terkecuali
pak Reza dan satu sosok juga turut hadir yaitu Raja. “Sayang kamu harus
melupakan Firly ya, dari awal mama juga sudah yakin bahwa dia itu tidak baik
untuk kamu sayang” ujar mama sambil merintih sedih melihat putrinya terbaring
lemah karna shock mendengar kabar Firly. “Iya ma.. Ratu tak apa-apa sebentar
lagi juga akan kembali normal” jawabku.
Selama aku dirumah sakit, Raja dan pak Reza
bergantian menjengukku dan memberi perhatian lebih kepadaku. Jika pak Reza aku
sudah mengerti bahwa ia menyukaiku, tetapi jika Raja aku tidak tau apa
maksudnya member perhatian kepadaku. Namun sudahlah intinya aku bahagia
memiliki orang-orang yang sayang denganku sehingga membuatku segera melupakan
Firly.
Hari-hari berganti akhirnya aku diperbolehkan untuk
pulang, karna memang perasaanku saat itu sudah pulih kembali dan aku harus memulai
hidup baru. Pak Reza yang menjemputku dirumah sakit karena saat itu mama sedang
ada pekerjaan diluar kota. Awalnya aku sedikit canggung, namun pak Reza sangat
terbuka dan memiliki jiwa muda juga ternyata.
Aku merasa terlahir kembali karena orang-oorang
disekitarku yang begitu menyayangiku. Pak Reza terus menerus memberi perhatian
kepadaku dan mengajakku dinner dan lunch.
“Ratu, kamu mau pesan apa?” tanya pak Reza
“Ratu pesan burger aja deh..” jawabkku
Setelah memesan makanan kami pun bercerita dan bercanda
tawa. Mungkin aku cukup nyaman dengan pak Reza karena ternyata walaupun umurnya
jauh lebih tua dari aku namun obrolan kami asyik dan aku bahagia. Rasa nyamanku
kepada pak Reza masih lebih besar rasa nyamanku kepada Raja. Kalau dibilang
mungkin akulah satu-satunya perempuan yang cepat move on dikala ditinggal
menikah oleh pacar sendiri justru sekarang sedang bingung haruus memilih dua
lelaki yang sama-sama nyaman untuk didekati.
Ditengah obrolan kami tersebut datanglah Raja dan
Rere. Aku sempat terkejut kenapa mereka bisa berjalan bersama namun mungkin
merea hanya berrteman dan tidak sengaja bertemu.
“Loh, kalian juga disini?” tanya Rere
“Iya re, kalian memang mau datang kesini atau ada
urusan?”
“Oh tidak, kami mau dinner sama seperti kalian hehe”
“Dinner?”
perjelasku nada shock
“Iya kami kan sudah resmi menjadi sepasang kekasih”
jawab Rere
“Wah.. selamat ya Raja selamat” ucap pak Reza namun
Raja hanya tersenyum
“Bagus dong jadi kamu tidak jomblo lagi re” sambarku
sinis.
“Sayang ayo kita duduk disana, kami duluan ya pak,
Ratu..” ajak Raja meninggalkan kami.
Aku benar-benar tidak percaya, ternyata selama ini
aku hanya kepedean ddan menganggap Raja menyukaiku, ternyata tidak sama sekali.
Sudahlah.. masih ada pak Reza yang telah lebih dulu memberi perhatian lebih kepadaku dan mungkin
itu tulus.
Esok harinya aku terbangun dari tidurku karna
mendengar suara-suara rebana dan alat music Betawi seperti mengaraki calon
pengantin saja. Mama menyerukan namaku dari singgah sana namun suara teriakan
pak Reza dari bawah lebih jellas terdengar ditelingaku lantas ku buka tirai
jendela kamarku dan ternyata pak Reza membawa rombongan sembari mengatakan
‘Will you marry me Ratu hatiku?’ aku
benar-benar terkejut dan langsung bergegas menuju halaman rumah hanya dengan
mengenakan baju tidur. “Sayang.. kamu dilamar pak Reza, sumpah mama senang
sekali tau. Kamu harus terima dia ya?” ucap mama kepadaku dan aku hanya
tersenyum dan langsung keluar rumah.
Sosok itu menghampiriku perlahan-lahan dengan
tatapan yang tulus dimatanya. Aku terenyuh dan tak melepaskan senyumanku.
“Will you marry me?” ucap pak Reza
“Yes” jawabku tersenyum..
Serentak seluruh rombongan diantaranya temman
semenagement dan orang tua Reza pun bersorak gembira mendengar jawabanku.
Bagiku ini sunggu jauh dari kata romantis, dilamar calon suami dengan pakaian
tidur. Namun begitulah cinta, tidak memandang keadaan dan aku bahagia telah
memiliki pak Reza yang mampu membimbingku. Kamulah Takdirku.
14 februari 2016 Windi Nurika
kontributor antologi cerpen WA Publisher
Tidak ada komentar:
Posting Komentar